JAKARTA,TERMINALNEWS.ID-| Di tengah ketegangan geopolitik yang belum sepenuhnya mereda di kawasan Teluk Persia, pemerintah Indonesia memilih jalur yang paling klasik sekaligus krusial: diplomasi. Bukan sekadar soal meloloskan dua kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro melintasi Selat Hormuz, tetapi tentang bagaimana negara menjaga urat nadi energi tanpa terseret pusaran konflik global.
Sinyal “angin segar” dari Iran terdengar menjanjikan. Otoritas di Teheran disebut telah memberi persetujuan awal bagi pelintasan kapal Indonesia. Namun, dalam praktik hubungan internasional, persetujuan politik kerap kali baru separuh jalan. Sisanya adalah detail teknis yang tak kalah rawan dan sering kali menentukan.
Kementerian Luar Negeri bergerak cepat. Jalur komunikasi dibuka sejak awal situasi memanas. Ini langkah yang tepat, meski terlambat bukan pilihan dalam kawasan yang sensitif seperti Selat Hormuz jalur sempit yang menampung sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Satu percikan saja cukup untuk mengguncang harga energi global.
Di sisi lain, Kementerian ESDM menegaskan narasi klasik: ketahanan energi dan keselamatan awak kapal sebagai prioritas. Pernyataan ini penting, tetapi juga menyingkap kerentanan yang selama ini disadari namun belum sepenuhnya teratasi ketergantungan pada pasokan energi dari kawasan rawan konflik.
Data impor minyak 2025 berbicara terang. Dari 135 juta barel minyak mentah yang diimpor, hampir seperlimanya berasal dari Arab Saudi. Diversifikasi yang kini digencarkan pemerintah ke Afrika, Amerika Latin, hingga Amerika Serikat adalah langkah strategis. Namun, langkah ini terkesan reaktif, bukan hasil dari desain jangka panjang yang matang.
Di titik ini, peristiwa di Selat Hormuz menjadi semacam alarm. Bahwa ketahanan energi tak bisa hanya bergantung pada negosiasi diplomatik setiap kali krisis muncul. Ia membutuhkan peta jalan yang lebih berani: penguatan produksi domestik, percepatan energi alternatif, dan reposisi strategi impor.
Pertamina, melalui lini pelayaran internasionalnya, kini bersiap di level teknis. Administrasi disusun, jalur diamankan, dan doa publik diminta. Tetapi di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang belum terjawab sepenuhnya: sampai kapan Indonesia akan terus berada dalam posisi rentan setiap kali jalur energi global bergejolak?
Selat Hormuz mungkin akan kembali tenang. Kapal-kapal Indonesia bisa saja melintas tanpa hambatan. Namun, pelajaran yang ditinggalkan semestinya tak ikut berlalu.


