JAKARTA,TERMINALNEWS.ID – Senin siang, langit Jakarta mendung. Di balik pintu kayu berat ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, satu nama besar kembali menjadi pusat perhatian: Fariz RM.
Bukan di panggung musik, bukan di studio rekaman — kali ini, sang maestro berada di kursi terdakwa, menghadapi tuduhan yang bisa merenggut enam tahun hidupnya.
“Saya Pengguna, Bukan Pengedar”
Begitu mikrofon di hadapannya menyala, Fariz menatap majelis hakim. Suaranya tenang, tapi setiap kata seperti memukul keras dinding persepsi publik:
“Saya pengguna, bukan pengedar.”
Ucapan itu bukan sekadar pembelaan hukum, tapi jeritan hati seorang seniman yang hidupnya lekat dengan nada, kini terjerat pasal yang ia yakini salah alamat.
Dua Pledoi, Dua Nada
Sidang hari ini berbeda. Fariz membawa dua pledoi: satu ia tulis sendiri dari balik jeruji — penuh emosi, kisah jatuh bangun, dan refleksi hidup; satu lagi disusun rapi oleh tim kuasa hukumnya yang dipimpin Deolipa Yumara.
“Pasal pengedar itu salah alamat. Fakta yang kami miliki jelas: beliau korban penyalahgunaan narkotika, bukan penjualnya,” tegas Deolipa di PN Jakarta Selatan,Senin(11/8)
Rehabilitasi sebagai Panggung Kedua
Alih-alih menanti dinginnya sel penjara, Fariz berharap hakim membuka pintu menuju rehabilitasi. Baginya, ini bukan sekadar pengobatan, tapi panggung kedua untuk hidupnya.
“Rehabilitasi bukan pembebasan. Itu adalah kesempatan untuk kembali waras, kembali berkarya,” ujar Deolipa, mantap.
Masa Lalu dan Bayang-Bayang Tuntutan
Sidang sebelumnya, pada 4 Agustus 2025, JPU menuntut enam tahun penjara. Pasal demi pasal dibacakan, seolah menutup semua nada harapan. Tapi hari ini, di ruang sidang yang dipenuhi wartawan dan simpatisan, Fariz berusaha memetik nada berbeda — nada yang mungkin bisa membalikkan alur lagu hidupnya.
Menunggu Putusan, Menunggu Harapan
Di luar ruang sidang, bisik-bisik terdengar: Akankah hakim melihat Fariz sebagai manusia yang butuh pemulihan, atau hanya sebagai pelanggar hukum?
Bagi sebagian orang, ini hanyalah kasus narkotika. Tapi bagi para penggemar yang tumbuh bersama lagunya, ini adalah babak kelam dari seorang legenda — babak yang semua orang harap akan diakhiri dengan sebuah kesempatan kedua.


