CHICAGO, TERMINALNEWS.ID – Michael Jordan dikenal luas sebagai pemain basket terbaik sepanjang masa. Bersama Chicago Bulls, ia membangun dinasti yang mendominasi NBA pada era 1990-an dengan meraih enam gelar juara.
Dalam perjalanan itu, Jordan mencatat rekor sempurna di Final NBA — enam kali tampil, enam kali juara — dan menciptakan banyak momen ikonik.
Bulls menjadi sorotan utama NBA di era tersebut, menguasai pemberitaan di dalam maupun luar lapangan. Salah satu rival terberat mereka saat itu adalah Indiana Pacers yang dipimpin Reggie Miller, dengan dukungan pemain seperti Dale Davis, Rik Smits, Vern Fleming, dan Mark Jackson.
Jordan dan Miller berhadapan sebanyak 64 kali sepanjang karier, dengan Jordan memegang keunggulan 39–25. Pertemuan paling legendaris terjadi di Final Wilayah Timur 1998 yang berlangsung hingga tujuh gim.

Meski Jordan mencetak rata-rata 30 poin, 6,3 rebound, dan 5,5 assist melawan Pacers, Miller justru mengungkap bahwa pemain tersulit yang pernah ia jaga bukanlah sang legenda Bulls.
Drazen Petrovic, Bikin ‘Gila’ Reggie Miller
Dalam wawancara di The Dan Patrick Show, Miller blak-blakan menyebut nama Drazen Petrovic sebagai lawan paling sulit yang pernah ia hadapi.

“Sampai sekarang saya bilang, dia adalah lawan terberat saya, dan saya membencinya… Dia membuat saya gila dengan caranya mencetak angka tepat di depan saya sambil terus bicara di telinga saya. Dan saya tak bisa berbuat banyak untuk menghentikannya,” kata Miller.
Tragisnya Sang Penembak Jitu dari Kroasia
Petrovic, yang berasal dari Šibenik, Kroasia, adalah salah satu pemain paling underrated di era 1990-an. Sebelum ke NBA, ia sudah meraih dua gelar EuroLeague, empat kali menjadi Pemain Terbaik Eropa, serta dua medali Olimpiade bersama Tim Nasional Yugoslavia (perunggu 1984, perak 1988).
Petrovic memulai karier NBA bersama Portland Trail Blazers pada 1989, namun baru bersinar setelah pindah ke New Jersey Nets. Di sana, ia menjadi andalan utama dan memimpin tim dalam perolehan poin dua musim berturut-turut.

Sayangnya, kariernya terhenti tragis pada Juni 1993 akibat kecelakaan lalu lintas, di tahun yang sama ia masuk All-NBA Third Team.
Sepanjang karier NBA-nya, Petrovic mencatat rata-rata 15,4 poin, 2,4 assist, dan 2,3 rebound per gim, dengan persentase tembakan impresif: 50,6% field goal, 43,7% three-point, dan 84,1% free throw. Banyak yang menganggapnya sebagai salah satu penembak terbaik dalam sejarah NBA.
Miller bahkan menegaskan kembali pendapatnya dengan menyebut Petrovic sebagai “penembak terbaik sepanjang masa.” Statistiknya melawan Pacers — rata-rata 17 poin, 2,5 assist, dan 2,3 rebound — menunjukkan bahwa ia semakin berbahaya setiap musim.
Walaupun namanya jarang masuk daftar pemain terbaik sepanjang masa, Drazen Petrovic tetap menjadi legenda yang meninggalkan salah satu kisah “bagaimana jika” paling besar dalam sejarah NBA.

