BerandaDaerah “Kami Capek Miskin, Pak!”...

 “Kami Capek Miskin, Pak!” Sujud Bupati Nias Utara Bikin Ruangan Hening

KEPULAUAN NIAS, SUMUT, – TERMINALNEWS.ID, – Sebuah video yang bikin haru sekaligus geregetan viral di media sosial. Bupati Nias Utara, Amizaro Waruwu, terekam bersujud di hadapan para pejabat pusat dalam rapat koordinasi percepatan pembangunan daerah tertinggal di Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), Rabu (25/2/2026) .

Bukan karena kalah debat atau minta jabatan, ia sujud memohon perhatian pemerintah pusat untuk 30 kabupaten tertinggal (daerah 3T) yang selama puluhan tahun masih bergulat dengan kemiskinan dan keterbatasan infrastruktur dan fasilitas kebutuhan masyarakat lainnya di Nias Utara Kepulauan Nias.

“Kami Capek Miskin, Pak!”

Dalam sambutannya, Amizaro yang ditunjuk sebagai koordinator 30 kabupaten tertinggal, melontarkan kalimat yang bikin ruangan hening dan netizen banjir air mata:

Bapak Menteri, Bapak Gubernur, dan Bapak-Ibu semuanya, kami ini sudah capek miskin, “Capek miskin kami”.

Kalimat itu seperti tamparan keras bagi kita semua. Bayangkan, seorang kepala daerah sampai harus mengatakan hal tersebut di forum resmi. Bukan karena drama, tapi karena fakta pahit yang tak terbantahkan.

Baca Juga :   Pemprov DKI Lakukan Rekayasa Lalu Lintas di 31 Titik Dukung Perayaan Tahun Baru

Bupati Amizaro kemudian membandingkan kondisi Nias Utara dengan daerah maju di Jawa, dimana perbandingannya bikin miris sekali, paparnya.

Kalau kepala daerah yang ada di Jawa ini (berbicara) bagaimana pengembangan AI (Artificial Intelligence), mal, jalan tol, dan lain sebagainya, kami masih berbicara mengenai rumah tidak layak huni, masih berbicara mengenai listrik, internet. Inilah beda kami, Pak, kata Bupati yang selalu rendah hati ini.

Ia menegaskan, setelah 80 tahun Indonesia merdeka, masyarakatnya masih harus berjuang untuk mendapatkan akses listrik yang memadai, tapi perhatian PT. PLN jauh dari harapan rakyat pedalaman di Negeri ini, tegasnya.

Kemerdekaan Indonesia 80 tahun sampai sekarang ini, sesungguhnya tidak akan bicara listrik. Jengkol (daerah) kami ini masih berjuang bagaimana ada listrik, jelasnya nya .

Bayangin aja di era Jakarta sibuk ngomongin Artificial Intelligence dan mobil listrik, di Nias Utara warga masih bergelut dengan kegelapan malam.

Di tengah penyampaiannya, Amizaro tiba-tiba bersujud di samping podium. Bukan karena jatuh, tapi sebagai bentuk penghambaan dan permohonan tulus agar daerah tertinggal mendapat perhatian serius.

Baca Juga :   90 Siswa SMK Jakarta Lulus Sertifikasi Internasional Akuntansi dan Manajemen ACCA

“Pak, mohon. Ya. Kami sudah capek miskin. Kami mewakili kawan-kawan daerah 3T,'” ujarnya sambil masih dalam posisi sujud .

Para pejabat yang hadir tampak tertegun, ada yang bertepuk tangan, ada yang diam saja (bingung), ada yang senyum senyum terpaksa, mungkin ada yang merasa tersindir, mungkin ada yang terwakili…entahlah.

Tak hanya memohon perhatian untuk 30 daerah 3T, Amizaro juga meminta akses bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto, ianya penuh harap.

“Saya sebagai Bupati merasa tidak ada apa-apanya, dengan cara apa saya bertarung dan berjuang, tidak ada cara yang sehebat apapun. Maka di hari yang berbahagia ini saya mohon, sesungguhnya dengan kerendahan hati yang paling dalam dan tulus berikanlah kemerdekaan yang sesungguhnya itu untuk kami, termasuk kami mohon akses kami kepada Bapak Presiden Republik Indonesia,” ujar Bupati Nisut yang juga akrab disapa Mr. Long.

Baca Juga :   Jakarta Fair Kemayoran 2025 (19 Juni -13 Juli 2025) Ditargetkan Penjualan Produk Mencapai 7 T

Ia ingin menyampaikan langsung kondisi riil rakyatnya kepada pemimpin tertinggi. Bukan karena tidak percaya pada menteri, tapi karena ia ingin memastikan bahwa suara rakyat kecil benar-benar sampai ke puncak kekuasaan.

Amizaro Waruwu mungkin bukan Bupati dengan gaya mewah atau pidato bombastis, tetapi ia telah melakukan sesuatu yang lebih berarti merendahkan diri demi rakyatnya yaitu sebuah sujud yang bukan karena takut, tapi karena cinta terhadap RAKYAT Nias Utara yang dicintainya.

Ia mengingatkan kita semua bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Masih ada saudara-saudara kita di timur yang bergelut dengan kegelapan, sementara kita di barat sibuk dengan gemerlap teknologi.

Semoga sujud Amizaru tidak sia-sia. Semoga ada tindakan nyata, bukan sekadar janji, dan semoga suatu hari nanti, anak-cucu di Nias Utara bisa tidur nyenyak dengan lampu menyala, tanpa harus mendengar keluhan “capek miskin” dari orang tua mereka, ujar tokoh masyarakat Kepulauan Nias.

Tapi sungguhkah kita semua telah merdeka?????{Samahato Buulolo/a.pais}

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Royalti Musik dan Keadilan Pencipta: Harapan Baru di Era Tata Kelola LMKN

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID — Tata kelola royalti dalam industri musik tidak semata berbicara...

GSW Pantura Jadi Proyek Strategis Nasional, Pemerintah Siapkan Otorita Khusus

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID— Proyek Giant Sea Wall (GSW) di kawasan Pantai Utara (Pantura)...

Polemik LMKN Kembali Mengemuka, LMK Klaim Sistem Royalti Rugikan Pencipta Lagu

JAKARTA,TERMINALNEWS ID— Polemik yang menyeret nama Lembaga Manajemen Kolektif Nasional kembali...

Arca “Mbah Bhelet” Dipindahkan, Fadli Zon Tekankan Penguatan Nilai Budaya Borobudur

MAGELANG,TERMINALNEWS.ID — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menghadiri Ritual Ageng Boyongan Mbah...

- A word from our sponsors -

spot_img