JAKARTA,TERMINALNEWS.ID -| Di tengah riuhnya wacana sastra yang kerap mengejar kompleksitas bentuk, buku puisi Yo Mung karya Samsudin Adlawi justru mengambil jalan sunyi: merayakan kesederhanaan sebagai puncak kesadaran. Melalui tangan dingin penulis yang akrab disapa Sasmudin Adlawi ini, ungkapan sederhana menjelma pintu masuk menuju perenungan yang dalam tentang manusia, semesta, dan relasinya dengan Yang Maha.
Dalam lanskap bahasa lokal Using Banyuwangi, “yo mung” berarti “hanya”, “sekadar”, atau “cuma”. Namun di tangan penyair, frasa ini bertransformasi menjadi pernyataan eksistensial sebuah pengakuan jujur tentang posisi manusia yang serba terbatas di hadapan kuasa Ilahi. Kesederhanaan itu bukan kekurangan, melainkan kesadaran yang ditumbuhkan, dirawat, dan dimaknai.
Puisi-puisi dalam buku setebal 116 halaman ini bergerak di antara dua kutub utama: etika dan estetika. Keduanya tidak dipertentangkan, melainkan dirajut dalam harmoni yang padu. Etika hadir sebagai kesadaran diri kerendahan hati, penerimaan, dan kepasrahan sementara estetika menjadi medium ekspresi melalui diksi yang padat, simbolik, dan sarat tafsir.
Samsudin tampak piawai menjaga musikalitas larik, sekaligus menyisipkan kedalaman makna yang tidak selalu mudah ditangkap. Pembaca diajak tidak sekadar membaca, melainkan menyelami, bahkan “menguliti” makna di balik tiap baris. Dari situ, pengalaman batin penyair terasa menular mengendap, lalu perlahan mengendapkan kesadaran baru.
Buku ini dibagi ke dalam sejumlah subtema seperti Lupa Ingat Luka, Ngeong Rindu, Resolusi Telur, hingga Palu Sejarah. Masing-masing menjadi ruang kontemplasi dengan warna pengalaman yang berbeda. Pada puisi “Puasa”, misalnya, Samsudin menghadirkan dialog lintas generasi yang sederhana namun menggugat: puasa tidak lagi dimaknai sekadar ritual, tetapi sebagai upaya “mengislamkan lapar” sebuah metafora yang kuat tentang pengendalian diri.
Sementara dalam puisi “Pada Lupa”, pembaca diseret ke jurang kesadaran yang gelap, sebelum akhirnya menemukan setitik cahaya sebagai simbol penyerahan total kepada Tuhan. Di sinilah kekuatan puitika Samsudin terasa: luka tidak ditolak, tetapi diterima sebagai jalan menuju terang.
Puncak perenungan itu terhimpun dalam puisi “Yo Mung”, yang sekaligus menjadi judul buku. Dengan struktur yang lugas dan repetitif, puisi ini menegaskan satu hal: tidak ada yang mampu menguasai ruang dan waktu selain Dia. Bukan manusia, bukan pula aku. Hanya yo mung Dia semata.
Namun, Yo Mung tidak melulu berkutat pada spiritualitas personal. Penyair juga membuka mata pada realitas sosial dan lingkungan. Dalam puisi “Plastik Berenang”, ia menyoroti pencemaran sungai yang menggerus kehidupan, sementara dalam “Telur”, ia menyulut semangat generasi muda untuk menemukan arah hidupnya.
Secara keseluruhan, buku ini menghadirkan pengalaman puitik yang utuh mengajak pembaca merenungkan kembali posisi diri di tengah semesta. Etika dan estetika tidak hanya menjadi tema, tetapi juga napas yang menghidupi setiap larik.
Meski demikian, buku ini tidak luput dari catatan. Masih ditemukan kesalahan kecil berupa typo pada bagian awal, serta absennya ulasan kritis dari pakar sastra yang seharusnya dapat memperkaya perspektif pembaca. Namun kekurangan itu tidak serta-merta mengurangi daya pikatnya sebagai karya reflektif yang jujur.
Pada akhirnya, Yo Mung adalah ajakan untuk kembali: pada kesederhanaan, pada kesadaran, dan pada pengakuan paling mendasar bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari semesta yang luas.
Tulisan ini disusun oleh Nur Khofifah atau yang dikenal dengan nama pena Viefa, seorang pendidik dan penggerak literasi asal Banyuwangi yang aktif di berbagai komunitas sastra.[*]


