CIREBON,TERMINALNEWS.ID -| Kunjungan Fadli Zon ke Keraton Kasepuhan Cirebon menegaskan arah baru penguatan ekosistem budaya nasional: menjadikan warisan sejarah bukan sekadar objek wisata, melainkan ruang hidup yang edukatif dan relevan lintas generasi.
Di kota Cirebon, Menbud disambut Luqman Zulkaedin yang memaparkan panjangnya jejak sejarah keraton yang telah berdiri sekitar enam abad sejak era Sunan Gunung Jati. Kesultanan Cirebon, sebagai kelanjutan dari Kerajaan Pajajaran, menjadi simbol kesinambungan peradaban yang masih bertahan hingga kini.
“Cirebon bukan hanya aset Jawa Barat, tetapi aset bangsa,” ujar Fadli. Ia menilai kekuatan utama Keraton Kasepuhan terletak pada kemampuannya merekam transformasi arsitektur dan budaya sejak abad ke-15. Namun, menurutnya, kekayaan itu perlu dihidupkan kembali melalui pendekatan yang lebih komunikatif.
Sorotan utama kunjungan tertuju pada penguatan fungsi Museum Pusaka Keraton Kasepuhan. Meski koleksi dinilai lengkap, Menbud menekankan pentingnya pembaruan pada aspek penceritaan (storytelling), tata pamer, hingga pencahayaan agar pengalaman pengunjung lebih imersif.
“Bukan hanya benda yang ditampilkan, tetapi narasi yang menyertainya harus mampu ‘berbicara’ kepada publik,” katanya.
Secara fisik, kawasan keraton seluas sekitar 25 hektar itu menyimpan berbagai elemen penting, mulai dari Siti Inggil, gapura candi bentar, hingga Dalem Agung Pakungwati. Namun, kondisi bangunan yang mulai menua menjadi tantangan tersendiri. Pihak keraton berharap ada perhatian serius dalam upaya pelestarian.

Kunjungan ini turut dihadiri Agus Mulyadi serta George Edwin Sugiharto, bersama jajaran Kementerian Kebudayaan. Kehadiran lintas pemangku kepentingan ini memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak bisa berdiri sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi berkelanjutan.
Menutup agenda, Fadli Zon menegaskan visi besar Kementerian Kebudayaan: menjadikan Keraton Kasepuhan sebagai pusat edukasi budaya dan sains. Sebuah ruang di mana sejarah tidak hanya dikenang, tetapi dipelajari, dipahami, dan terus dihidupkan.|Sumber Kemenbud RI


