BerandaNasionalPrabowo Subianto dan Mitos...

Prabowo Subianto dan Mitos Politik Notonegoro

OLEH: ALEX PALIT

Apa itu mitos? Di buku “Sakral dan Profan”, Mircea Eliade menyebutkan bahwa setiap mitos menunjukkan bagaimana sebuah realitas hadir, apakah menjadi realitas total, kosmologis, atau hanya sebuah fragmen-fragmen. Di mana mitos itu sendiri merupakan realitas kultural yang bermakna hingga kini.

Sedang menurut Henry Tudor di buku “Mitos dan Ideologi Politik”, dalam pengertian sehari-hari, istilah mitos (myth) mengacu kepada setiap kepercayaan yang berlandaskan kenyataan.

Dan kita dapat mengatakan bahwa suatu cerita tertentu adalah sebuah mitos, bukan berdasarkan kebenaran yang dikandungnya, melainkan berdasarkan fakta bahwa orang mempercayai akan kebenarannya karena dramatisasi yang diberikan kepadanya.

Menurut Henry Tudor, pernyataan yang paling wajar dan mungkin paling berarti yang dapat kita buat mengenal mitos adalah bahwa mitos itu selalu merupakan suatu cerita, satu kisah tentang peristiwa-peristiwa dalam bentuk dramatis.

Baca Juga :   Mensos dan Menag Tanda Tangani MoU Sekolah Rakyat

Ia mempunyai pelaku utama tentang orang-orang yang benar-benar pernah hidup, dan peristiwa-peristiwa yang sungguh-sungguh ada dan terjadi.

Begitu halnya dengan suatu mitos politik. Mitos politik adalah suatu mitos yang menceritakan kisah tentang sebuah masyarakat politik.

Sering kali ia merupakan kisah sebuah masyarakat politik yang pernah ada atau diciptakan di masa lampau dan yang sekarang harus dipulihkan atau dilestarikan.

Individu-individu sering kali tampil dalam mitos politik yang berperan sebagai wakil kelompok mereka atau sebagai pengemban nasib mereka.

Mitos Politik Notonegoro

Mitos politik ini juga melekat dalam masyarakat politik Indonesia, yaitu mitos politik “Notonegoro” yang merujuk pada akronim nama sosok pemimpin yang berakhiran: No-To-Ne-Go-Ro yang kemudian dikaitkan dengan nama sosok presiden Indonesia.

Baca Juga :   Rapat Koordinasi Cabang Partai Gerindra Kapuas Hulu: Semangat Membara untuk Mewujudkan Kemenangan di Pemilu 2024

Seperti pada akhiran kata: No yaitu Soekarno, presiden pertama Indonesia. Lalu, To yaitu Soeharto, sebagai presiden kedua Indonesia.

Dalam pemahaman masyarakat politik tradisional, mitos politik “Notonegoro” tidak lepas dari dimensi mistis, di mana kepemimpinan atau keterpilihan seseorang sebagai pe-mimpin lantaran yang bersangkutan mendapat wangsit wahyu cakraningrat atau wahyu keprabon untuk menata negara.

Dalam siklus suksesi kepemimpinan nasional mitos politik “Notonegoro”, kata dengan akhiran: No-To-Ne-Go-Ro ini acapkali dihubungkan atau merujuk keterpilihan “Satria Pinilih” sebagai Satrio Pinilih Notonegoro.

Tinggal bagaimana kita membaca, menafsir, menterjemahkan, menerawang dan menyingkap siapa sosok capres di Pilpres 2024 yang namanya mengandung akronim: No-To-Ne-Go-Ro dari apa yang tersirat di mitos politik “Notonegoro” sebagai Satrio Pinilih Notonegoro.

Baca Juga :   Presiden Prabowo Subianto Serukan Sikap Tegas dalam Pemberantasan Narkoba, Polri dan BNN Diingatkan untuk Tidak Kompromi

Alex Palit, jurnalis, penulis buku “2024 Kenapa Harus Prabowo Subianto Notonegoro”.

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Tiara Hedy dan Birgita Joy Raih Juara 2 Renjani Ngonten Pajak 2026, Harumkan Nama UB Malang

MALANG, TERMINALNEWS.ID - Dua mahasiswi Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Jurusan Perpajakan...

Diskusi ‘Ngobrol Santai Bareng Kartini Seni, Musik dan Film’ Peringati Hari Kartini 2026 Bakal Digelar Forwan

JAKARTA, TERMINALNEWS.ID - Setelah sukses menggelar Diskusi Riang Gembira bertajuk Perempuan...

Ferry Juliantono Resmi Dilantik Jadi Menteri Koperasi, Dapat Ucapan Hangat dari Sahabat H. AR. Hidayat, SH

JAKARTA, TERMINALNEWS.ID – Dr. Ferry Juliantono resmi dilantik sebagai Menteri Koperasi...

Kapolri Mendukung Penuh Kongres Penyatuan PWI, Harapkan Organisasi Wartawan ini Segera Bersatu

JAKARTA, TERMINALNEWS.ID - Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo menyatakan dukungan...

- A word from our sponsors -

spot_img