JAKARTA,TERMINALNEWS.ID— Ajang YAPMI yang digelar di Sasono Langen Budoyo TMII,Jumat(28/11) kembali menjadi panggung bagi talenta muda dari berbagai daerah di Indonesia. Dari deretan peserta yang tampil, sosok kecil berusia 7 tahun asal Parepare, Sulawesi Selatan, berhasil mencuri perhatian: Kayla Nadhifa Almaira, peserta termuda di kategori Kids B Mom and Kids.
Kayla tampil didampingi ibunya, Ningsih Samir, yang mengakui sempat merasa cemas melihat usianya yang jauh lebih muda dibanding peserta lain.
“Rentang usianya 7 sampai 11 atau 12 tahun. Karena Kayla paling kecil, saya sempat merasa kurang percaya diri. Tapi ternyata kepercayaan diri anak saya luar biasa. Itu yang membuat saya ikut berani,” ujar Ningsih.
Persiapan Intens dan Penampilan Bernuansa Budaya Bugis
Perjalanan Kayla ke Jakarta bukan tanpa perjuangan. Proses latihan dilakukan cukup ketat, mencakup catwalk, talent show, hingga penampilan mom and kid. Keduanya membawakan tari kreasi Bugis dengan balutan busana adat—sebuah kombinasi yang sukses menambah daya tarik penampilan mereka.
“Alhamdulillah semua berjalan lancar. Meski beberapa hari di Jakarta cukup melelahkan, semuanya terbayar,” tambah sang ibu.

Mimpi Sederhana dari Seorang Anak 7 Tahun
Dalam sesi perkenalan, Kayla tampil penuh kegembiraan.
“Halo, nama saya Kayla Nadhifa Almaira, umur 7 tahun dari Parepare. Aku mau menang, mau dapat sepeda listrik,” ujarnya polos, mengundang tawa para juri dan penonton.
Kayla juga menyebut beberapa sosok yang menjadi panutannya di dunia modeling, seperti Arzeti dan Barbie Kumalasari.
Ia tak lupa memberikan pesan untuk anak-anak seusianya:
“Semangat belajar terus, jangan mudah menyerah.” ujarnya dengan polos.
Pesan untuk Para Orang Tua
Ningsih berharap keikutsertaan anaknya bisa menjadi motivasi bagi orang tua lainnya untuk mendukung minat dan potensi putra-putri mereka.
“Kita harus mendampingi dan berjuang bersama. Memang butuh waktu, tenaga, dan materi, tapi semua itu untuk masa depan anak agar mereka bisa sukses,” ujarnya.
Keberhasilan Kayla tampil percaya diri di usia sedini ini menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk berkembang dapat dimulai dari mana saja—bahkan dari langkah kecil seorang anak berusia 7 tahun yang bermimpi mendapatkan sepeda listrik.


