BerandaLifestyleInayah Wahid Soroti Salah...

Inayah Wahid Soroti Salah Kaprah Bantuan Pascabencana

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID -| Praktik pemberian susu kental manis kepada anak-anak korban bencana masih kerap ditemukan di lapangan. Aktivis sosial Inayah Wahid menilai kebiasaan ini mencerminkan masih lemahnya literasi gizi dalam penanganan pascabencana, meski dilandasi empati yang besar dari masyarakat.

Dalam situasi darurat, empati memang sering kali hadir lebih cepat daripada panduan. Bantuan makanan dikirim dalam jumlah besar, dengan pertimbangan utama mudah dibagikan dan dapat mengenyangkan. Namun, di tengah keinginan menolong itu, kebutuhan anak, terutama balita kerap terlewatkan. Padahal, bagi kelompok usia ini, apa yang dikonsumsi pada masa pasca bencana berpengaruh langsung pada tumbuh kembang mereka.

Empati Besar, Pola Bantuan yang Berulang

Indonesia dikenal sebagai bangsa yang sigap saat bencana datang. Solidaritas masyarakat mengalir deras, donasi terkumpul dalam waktu singkat, dan berbagai bantuan segera menuju lokasi terdampak. Namun, dalam berbagai pengalaman mendampingi kerja kemanusiaan, Inayah melihat satu pola yang terus berulang: bantuan berhenti pada fase bertahan hidup.

“Empati kita itu luar biasa besar, tapi sering kali baru sampai di tahap ‘yang penting selamat’.” jelas Inayah.

Inayah yang merupakan putri Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), telah lama terlibat dalam berbagai inisiatif sosial dan kemanusiaan, termasuk melalui jaringan Gusdurian. Pengalaman lapangan, mulai dari pandemi COVID-19 hingga bencana alam di sejumlah daerah, membuatnya menyaksikan langsung bagaimana niat baik sering kali tidak diiringi dengan pemahaman yang memadai soal kebutuhan gizi anak.

Baca Juga :   Tips Mengatasinya Anak Kecanduan Kental Manis? Begini Mengatasinya

Anak Bukan Miniatur Orang Dewasa

Dalam kondisi pascabencana, anak-anak kerap menerima makanan yang sama dengan orang dewasa. Mi instan, makanan kaleng, hingga produk ultra-proses menjadi konsumsi harian karena mudah diperoleh. Bagi orang dewasa, makanan tersebut mungkin cukup membantu. Namun bagi anak-anak, khususnya di bawah usia tiga tahun, situasinya berbeda.

“Anak itu bukan miniatur orang dewasa. Kebutuhan gizinya, teksturnya, cara makannya, semuanya berbeda.” kata Inayah.

Susu kental manis menjadi contoh yang paling sering ditemui. Produk ini masih kerap dianggap sebagai “susu” dan diberikan kepada anak-anak, meski tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi mereka.

“Kalau bisa, kental manis itu nggak usah. Bukan cuma soal bisa dimakan, tapi soal apakah itu baik untuk tumbuh kembang anak.” Menurut Inayah, kental manis bukan satu-satunya masalah. Itu hanyalah simbol dari cara pandang bantuan yang masih berorientasi pada rasa kenyang, bukan kualitas asupan.

Dari Fase Darurat ke Keberlanjutan

Inayah memahami bahwa dalam situasi darurat, bantuan tidak selalu bisa ideal. Makanan instan dan pangan awet kerap menjadi pilihan paling realistis. Namun, ia menekankan pentingnya batas yang jelas antara fase survival dan fase keberlanjutan.

Anak-anak berada dalam periode pertumbuhan yang krusial. Kekurangan atau ketidaktepatan asupan gizi pada masa ini dapat berdampak panjang, bahkan setelah situasi bencana berlalu.

Baca Juga :   KOPMAS Sambangi PKK Jakarta Bicarakan Persoalan Kental Manis

“Yang sering luput itu transisinya. Setelah kondisi mulai stabil, fokusnya seharusnya bergeser.” ujar Inayah. Bergeser dari sekadar memastikan anak tidak lapar, menuju upaya menjaga tumbuh kembang mereka dalam jangka panjang.

Niat Baik yang Perlu Literasi

Bagi Inayah, persoalan ini bukan tentang menyalahkan donatur atau relawan. Justru sebaliknya, ia melihat empati masyarakat sebagai modal besar yang perlu diiringi literasi. “Banyak orang membantu dengan sudut pandang dirinya sendiri. Padahal yang paling penting adalah kebutuhan di lapangan.” katanya.

Dalam beberapa pengalaman, bantuan yang datang tidak selalu sesuai. Pakaian, misalnya, sering diterima dalam jumlah besar, tetapi tidak jarang berupa barang yang sulit digunakan oleh korban. Fenomena ini menunjukkan bahwa niat baik belum tentu berbanding lurus dengan ketepatan bantuan.

“Pertanyaannya sebenarnya sederhana, apa yang dibutuhkan?” Menurut Inayah, bertanya sebelum memberi adalah bentuk empati yang lebih bertanggung jawab.

Alternatif yang Lebih Ramah Anak

Pilihan pangan yang lebih sesuai bagi anak sebenarnya semakin tersedia. Makanan berbahan real food yang dikemas, MPASI sesuai usia, serta produk siap konsumsi dengan nilai gizi memadai kini lebih mudah ditemukan di pasaran.

Jika memungkinkan, belanja bahan pangan di sekitar lokasi bencana juga menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan. Selain memastikan kesesuaian makanan dengan kebiasaan setempat, cara ini turut membantu pemulihan ekonomi warga terdampak.

“Kalau memang masih survival, ya sampai batas tertentu. Setelah itu, kita harus mulai memilih yang bukan hanya bisa dimakan, tapi juga baik.” kata Inayah.

Baca Juga :   Komisi IX Minta Masyarakat Tak Panik,Meskipun Virus HMPH diTemukan di Indonesia

Bukan Sekadar Makanan

Isu anak pascabencana, menurut Inayah, tidak berhenti pada urusan pangan. Aspek psikososial juga memiliki peran penting. Mainan, buku, peralatan sekolah, hingga benda-benda yang memberi rasa normal bagi anak seringkali luput dari perhatian.

“Hal-hal yang kita anggap kecil itu bisa sangat berarti buat mereka,” ujarnya.

Pemulihan anak berjalan seiring antara pemenuhan gizi dan rasa aman. Anak yang merasa diperhatikan dan didampingi memiliki peluang lebih besar untuk pulih, meski berada dalam situasi sulit.

Menjaga Masa Depan Anak Pascabencana

Di tengah frekuensi bencana yang kian meningkat, refleksi soal gizi anak menjadi semakin mendesak. Indonesia, sebagai negara rawan bencana, tidak bisa terus-menerus mengandalkan respons darurat tanpa evaluasi jangka panjang.

Bagi Inayah, memperbaiki cara pandang terhadap gizi anak pascabencana adalah tanggung jawab bersama. Empati masyarakat sudah menjadi kekuatan besar, yang dibutuhkan kini adalah pengetahuan untuk mengarahkannya. “Kemanusiaan itu bukan cuma soal menyelamatkan hari ini, tapi memastikan mereka bisa melanjutkan hidupnya.” pungkasnya.

Bantuan akan terus berdatangan setiap kali bencana terjadi. Namun, harapannya bukan lagi semata tentang apa yang paling mudah dibagikan, melainkan apa yang paling menjaga masa depan anak-anak, kelompok yang paling rentan sekaligus penentu hari esok.

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Royalti Musik dan Keadilan Pencipta: Harapan Baru di Era Tata Kelola LMKN

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID — Tata kelola royalti dalam industri musik tidak semata berbicara...

GSW Pantura Jadi Proyek Strategis Nasional, Pemerintah Siapkan Otorita Khusus

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID— Proyek Giant Sea Wall (GSW) di kawasan Pantai Utara (Pantura)...

Polemik LMKN Kembali Mengemuka, LMK Klaim Sistem Royalti Rugikan Pencipta Lagu

JAKARTA,TERMINALNEWS ID— Polemik yang menyeret nama Lembaga Manajemen Kolektif Nasional kembali...

Arca “Mbah Bhelet” Dipindahkan, Fadli Zon Tekankan Penguatan Nilai Budaya Borobudur

MAGELANG,TERMINALNEWS.ID — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menghadiri Ritual Ageng Boyongan Mbah...

- A word from our sponsors -