KARAWANG,TERMINALNEWS.ID – Kebijakan penutupan akses Jalan Stadion Singaperbangsa memicu kemarahan warga Guro 2 RW 023, Kelurahan Karawang Wetan. Puluhan warga turun ke jalan, Sabtu (31/1/2026), memprotes keputusan yang mereka nilai dilakukan tanpa sosialisasi, tanpa kajian dampak, dan tanpa memikirkan keselamatan warga.
Bagi warga, ini bukan sekadar soal jalan ditutup. Ini soal lingkungan permukiman yang mendadak berubah menjadi jalur lalu lintas liar akibat pengalihan arus kendaraan dari jalan utama ke gang-gang kecil perumahan.
Jalan yang sebelumnya dipakai anak-anak bermain dan warga beraktivitas kini dipenuhi sepeda motor yang melaju kencang mencari jalur alternatif.
“Sekarang motor-motor masuk ke jalan tikus di pemukiman. Macet, semrawut, sering tabrakan. Kami yang jadi korban,” tegas Ipul, warga Guro 2, di lokasi aksi.
Korban Sudah Berjatuhan
Dampak kebijakan ini, menurut warga, bukan lagi potensi bahaya insiden nyata sudah terjadi.
Warga menyebut seorang anak sempat tertabrak motor, hewan ternak milik warga terlindas, bahkan ada warga yang tercebur ke saluran air karena kondisi jalan yang kacau akibat padatnya kendaraan.
Situasi ini memunculkan pertanyaan serius:
Apakah penutupan jalan dilakukan tanpa perhitungan risiko keselamatan warga?
“Anak kecil jadi korban, warga celaka. Ini bukan cuma soal macet, ini soal nyawa,” kata Ipul.
Tak Ada Sosialisasi, Warga Merasa Dikorbankan
Yang membuat warga semakin geram adalah fakta bahwa penutupan jalan dilakukan tanpa pemberitahuan atau dialog dengan masyarakat terdampak.
Tidak ada pertemuan warga,Tidak ada pengumuman resmi dan Tidak ada rekayasa lalu lintas yang disiapkan matang.
Warga mengaku hanya mengetahui kebijakan itu setelah jalan benar-benar sudah ditutup dan arus kendaraan mulai menyerbu lingkungan mereka.
“Tahu-tahu ditutup. Kami tidak pernah diajak bicara. Tapi dampaknya kami yang tanggung,” keluh seorang ibu rumah tangga yang ikut aksi.
Bagi warga, ini menunjukkan buruknya tata kelola kebijakan publik di tingkat daerah, di mana keputusan infrastruktur diambil tanpa mempertimbangkan dampak sosial langsung.
Melalui aksi ini, warga mendesak Pemerintah Kabupaten Karawang dan instansi terkait untuk segera membuka kembali akses Jalan Stadion atau setidaknya menyiapkan solusi lalu lintas yang aman dan tidak mengorbankan kawasan permukiman.
Warga juga meminta adanya evaluasi terbuka terkait proses pengambilan keputusan penutupan jalan tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemkab Karawang maupun pihak yang bertanggung jawab atas kebijakan penutupan jalan tersebut sementara warga mengaku harus menghadapi risiko kecelakaan setiap hari di depan rumah mereka sendiri.


