LONDON, TERMINALNEWS.ID – Tottenham Hotspur tengah berada dalam situasi yang sangat tidak biasa pada musim ini.
Klub asal London Utara itu secara matematis masih memiliki peluang terdegradasi ke Divisi Championship Inggris, namun di saat yang sama juga bersaing untuk menjuarai Liga Champions.
Jika skenario nyaris mustahil itu benar-benar terjadi—Tottenham terdegradasi ke kasta kedua sepak bola Inggris sekaligus mengangkat trofi Liga Champions—maka itu akan menjadi sejarah baru.
Belum pernah ada klub yang mengalami degradasi di kompetisi domestik, tetapi pada saat bersamaan menjadi juara Eropa.
Saat ini, posisi Tottenham di klasemen Liga Inggris hanya terpaut empat poin dari zona degradasi. Klub sebelumnya memecat pelatih Thomas Frank dan menunjuk Igor Tudor sebagai penggantinya.
Di tengah performa liga yang inkonsisten, Spurs justru mampu bangkit di Eropa dengan menembus babak 16 besar Liga Champions—sebuah kontras yang cukup ganjil.
Tottenham disebut sebagai salah satu tim dengan peluang terkecil untuk menjuarai Liga Champions musim ini. Klub yang bermarkas di Tottenham Hotspur Stadium itu hanya diberi peluang 1,98 persen untuk menjadi juara.
Sebaliknya, kemungkinan mereka terdegradasi ke Championship justru dinilai lebih besar. Perlu diketahui, Tottenham terakhir kali turun dari kasta tertinggi sepak bola Inggris pada 1977.
Jika skenario ekstrem itu benar-benar terjadi—juara Liga Champions sekaligus terdegradasi—maka jadwal Spurs musim depan akan menjadi mimpi buruk bagi penyelenggara kompetisi. Sebagai juara Eropa, mereka otomatis lolos ke Liga Champions musim berikutnya sesuai regulasi UEFA.
Artinya, Tottenham harus menjalani 46 pertandingan Championship, ditambah laga Carabao Cup, FA Cup, serta fase liga Liga Champions dalam satu musim yang sama. Beban pertandingan yang luar biasa padat.
Dalam sejarah sepak bola Inggris, situasi seperti ini memang belum pernah terjadi. Namun ada kasus mendekati, seperti yang dialami Wigan Athletic dan Birmingham City, yang pernah terdegradasi tetapi tetap tampil di kompetisi Eropa usai menjuarai FA Cup dan EFL Cup.
Di babak 16 besar, Tottenham berpotensi menghadapi salah satu dari empat klub: Juventus, Galatasaray, Club Brugge, atau Atletico Madrid.
Jika lolos ke perempat final, calon lawan terberat yang mungkin dihadapi adalah Paris Saint-Germain, Chelsea, atau Barcelona.
Apabila mampu menembus semifinal, Spurs berpotensi bertemu raksasa Eropa seperti Real Madrid, Manchester City, Arsenal, atau Bayern Munich.
Bahkan di partai final, Tottenham bisa saja menghadapi salah satu nama besar tersebut, atau tim asuhan Arne Slot bersama Liverpool.
Skenario juara Eropa sekaligus terdegradasi memang terdengar seperti kisah fiksi. Namun dalam sepak bola, selama peluang itu masih ada—sebesar apa pun kecilnya—semuanya tetap mungkin terjadi.

