JAKARTA,TERMINALNEWS.ID -| Di tengah perubahan selera musik anak muda yang kian cepat, jazz tetap menemukan cara untuk bertahan — bahkan berevolusi. Di balik gerakan baru ini, sosok Refida Herastuti, CEO Oh My Jazz, muncul sebagai figur yang mendorong kelahiran generasi baru pecinta dan pelaku jazz Indonesia.
“Jazz itu bukan musik tua. Ia hidup, bernafas, dan bisa berbicara dengan gaya siapa pun,” ujar Refida disela sela gelaran Oh My Jazz di Grand Pavillion Arcadia Green Park,Minggu (2/11)
Visi itulah yang melahirkan Oh My Jazz, sebuah komunitas dan platform yang menggabungkan pertunjukan live, pembinaan, serta produksi digital untuk memperluas akses jazz di kalangan muda.

Menjembatani Dua Dunia
Oh My Jazz dirancang bukan sekadar komunitas musisi, melainkan jembatan antara generasi jazz senior dan talenta muda. Melalui program audisi dan mentorship, musisi seperti Jessica Hieda, Qonita Ayu, Retasya, dan Andre Panigoro mendapat kesempatan tampil dan belajar langsung dari nama-nama besar seperti Natasha Alvira.
“Bertemu mentor seperti Natasha itu membuka mata. Jazz ternyata bisa sangat personal, tapi juga terbuka,” ungkap salah satu peserta.
Jazz yang Luwes dan Berani
Refida memahami bahwa untuk menjangkau generasi baru, jazz perlu keluar dari sekat konvensionalnya. Maka, Oh My Jazz menghadirkan konsep lintas-genre—menggabungkan unsur pop, dangdut, hingga karya orisinal tanpa kehilangan ruh improvisatif jazz.
“Anak muda ingin sesuatu yang bisa mereka rasakan dan pahami. Jazz bisa jadi kendaraan untuk itu, bukan tembok yang memisahkan,” jelas Refida.
“Oh My God” Festival: Panggung Besar Regenerasi
Puncak dari perjalanan Oh My Jazz tahun ini adalah persiapan festival “Oh My God”, sebuah ajang terbuka bagi musisi solo dan band dari berbagai daerah. Festival ini dirancang sebagai ruang unjuk karya sekaligus wadah kurasi untuk talenta baru yang siap naik kelas.
Tak hanya mengandalkan panggung, Oh My Jazz juga aktif di ranah digital. Setiap audisi dan penampilan direkam serta diunggah ke YouTube dan platform streaming agar penikmat jazz di seluruh Indonesia bisa ikut merasakan energinya.
“Generasi sekarang hidup di dunia digital. Jadi jazz pun harus punya napas digital,” kata Refida.

Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Panggung
Bagi Refida Herastuti, membangun komunitas jazz bukan hanya tentang konser atau festival, tapi tentang ekosistem berkelanjutan. Dari pembinaan, distribusi karya, hingga manajemen karier musisi muda — semua diarahkan agar mereka siap menghadapi industri musik modern tanpa kehilangan karakter.
“Kalau jazz ingin bertahan, ia harus punya regenerasi yang sehat. Dan regenerasi tidak mungkin terjadi tanpa ruang yang ramah bagi yang muda,” tegas Refida.
Dengan pendekatan yang hangat, terbuka, dan progresif, Oh My Jazz kini menjadi bukti bahwa jazz bisa tetap relevan — bahkan menawan — di mata generasi baru.


