Halalbihalal, Jembatan Kebangsaan dari Jakarta
JAKARTA,TERMINAL NEWS.CO -| Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan pentingnya merawat tradisi halalbihalal sebagai ruang kebudayaan yang merekatkan perbedaan, saat menghadiri silaturahmi Idulfitri 1447 H bersama Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (4/4).
Di hadapan warga persyarikatan, Pramono menilai Muhammadiyah telah lama memainkan peran strategis sebagai pilar kekuatan umat sekaligus penjaga tradisi keindonesiaan yang inklusif. Salah satu kontribusi penting itu adalah memperkenalkan dan merawat halalbihalal sebagai praktik sosial yang menautkan silaturahmi dan saling memaafkan.
“Halalbihalal adalah tradisi khas Indonesia yang sarat nilai. Di dalamnya ada semangat menyambung relasi dan melebur sekat,” ujar Pramono.
Ia mengulas jejak historis tradisi tersebut yang pernah dikenalkan melalui Majalah Suara Muhammadiyah pada 1924 dengan istilah “Chalal bil Chalal”, yang kemudian berkembang menjadi “Alal Bahalal”, hingga kini dikenal luas sebagai halalbihalal. Bagi Pramono, penerimaan Muhammadiyah terhadap tradisi itu sebagai sunnah hasanah menegaskan keluwesan Islam dalam merawat kebudayaan lokal.
“Bayangkan jika saat itu halalbihalal ditolak. Wajah sosial kita mungkin berbeda. Justru Muhammadiyah menegaskan ini sebagai tradisi baik yang memperkuat persatuan,” katanya.
Dalam konteks kekinian, Pramono menilai nilai-nilai halalbihalal relevan untuk membangun Jakarta sebagai rumah bersama. Kota global, menurut dia, tidak hanya diukur dari infrastruktur, tetapi juga dari kematangan sosial dalam mengelola keberagaman.
“Jakarta harus menjadi rumah bagi semua—lintas agama, golongan, dan latar belakang—yang diperlakukan secara terbuka dan adil,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi dukungan Muhammadiyah terhadap berbagai program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, termasuk program pemutihan ijazah bagi lebih dari 6.000 warga. Peran jaringan Muhammadiyah dinilai krusial dalam menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta, Ahmad Abubakar, disebutnya turut memberikan kontribusi nyata dalam menggerakkan kolaborasi tersebut. “Banyak dorongan moral dan dukungan konkret yang kami terima,” kata Pramono.
Ke depan, ia berharap sinergi antara Pemprov DKI Jakarta dan Muhammadiyah tidak berhenti sebagai kerja programatik, melainkan berkembang menjadi kemitraan strategis yang berkelanjutan. Partisipasi publik, menurutnya, telah menjadi fondasi penting pembangunan kota, bahkan melampaui keterbatasan anggaran.
“Banyak ruang publik, taman, hingga halte dibangun melalui gotong royong dan kepercayaan. Ini modal sosial yang harus kita jaga,” ujar Pramono.
Di tengah dinamika kota metropolitan, halalbihalal kembali menemukan maknanya: bukan sekadar ritual pasca-Idulfitri, melainkan jembatan kebangsaan yang meneguhkan Jakarta sebagai ruang hidup bersama.|Sumber Dinas Kominfotik


