JAKARTA,TERMINALNEWS.ID-| Di bawah mistar gawang Satria Sanggeni, nama M. Khowen Labib mulai mencuri perhatian. Kiper kelahiran 12 Mei 2009 ini bukan sekadar penjaga gawang biasa ia adalah representasi semangat pemain muda yang tumbuh dari proses panjang, disiplin, dan dukungan keluarga.
Putra Bungsu dari 2 bersaudara Keluarga Edwar Martinus ini sudah akrab dengan bola sejak usia 5 tahun. Awalnya mencoba berbagai posisi, Khowen kecil akhirnya menemukan “rumahnya” di bawah mistar. Posturnya yang kini menjulang sekitar 181–183 cm menjadi modal alami, namun refleks dan keberaniannya adalah hasil latihan bertahun-tahun.
Saat ini, Khowen menimba ilmu di SMK Nasional Depok, kelas 11. Di sekolah, ia dikenal sebagai siswa yang santai namun tetap fokus pada karier sepak bolanya. Lingkungan pertemanannya pun didominasi sesama atlet, membuat ritme latihan dan kompetisi terasa sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Debut dan Mimpi di Liga Jakarta U17
Keikutsertaannya di Liga Jakarta U17 menjadi tonggak penting. Bagi Khowen, kompetisi ini bukan hanya soal menang atau kalah, melainkan kesempatan untuk menunjukkan bahwa klub kecil seperti Satria Sanggeni juga layak diperhitungkan.
“Semua lawan berat, karena sama-sama makan nasi,” ujarnya santai,saat pemotretan dan verifikasi data di Markas Kandang Ayam Rawamangun Jakarta Timur, minggu(15|2)kalimat sederhana yang mencerminkan mentalitas setara dan tanpa gentar menghadapi siapa pun.
Idola di bawah mistarnya adalah Emil Audero sosok yang ia kagumi karena ketenangan dan konsistensi. Dari sana, Khowen belajar bahwa kiper hebat bukan hanya soal penyelamatan spektakuler, tetapi juga kepemimpinan di lini belakang.

Markas latihan yang berada di Gunung Sindur memaksanya menempuh perjalanan cukup jauh setiap Rabu dan Sabtu. Namun jarak bukan alasan. Baginya, perjalanan itu justru bagian dari pengorbanan menuju mimpi.
Ayahnya, Edwar Martinus, punya filosofi sederhana: sepak bola adalah jalan agar anaknya tetap berada di lingkungan positif. Ia tak memaksakan target muluk seperti Timnas atau pemain profesional, melainkan menekankan konsistensi dan karakter.
“Yang penting dia aktif dan terhindar dari hal negatif. Kalau memang punya keinginan, lanjutkan,” katanya.
Tembok Masa Depan
Dengan tinggi badan ideal, pengalaman sejak dini, dan mental yang terus ditempa kompetisi, M. Khowen Labib perlahan menjelma menjadi tembok masa depan bagi Satria Sanggeni. Ia mungkin masih muda, tetapi fondasinya sudah kuat: disiplin, dukungan keluarga, dan mimpi yang dijaga sejak kecil.
Jika konsistensi ini terus terawat, bukan tak mungkin suatu hari nanti nama Khowen akan berdiri tegak bukan hanya di bawah mistar klubnya, tetapi juga di panggung sepak bola yang lebih besar.|Foto : IssonKhaeirul

