TERMINALNEWS.ID, MEXICO CITY – Kontroversi mengenai masa depan komersial Piala Dunia FIFA semakin memanas. Setelah sebelumnya UEFA menyuarakan keberatan, kini CONCACAF juga secara terbuka mengkritik rencana Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk membentuk FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah entitas komersial baru yang memungkinkan investor swasta membeli kepemilikan atas hak-hak komersial FIFA.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada 29 Juli, CONCACAF mengungkapkan bahwa mereka pertama kali mengetahui proposal tersebut melalui laporan media. Informasi resmi dari FIFA baru diterima setelahnya. Menurut konfederasi yang membawahi kawasan Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia itu, proses tersebut sangat mengkhawatirkan.
CONCACAF menyatakan pihaknya “sangat prihatin terhadap kurangnya proses yang semestinya (due process).” Organisasi itu menilai proposal sebesar ini seharusnya dibahas terlebih dahulu bersama konfederasi benua, asosiasi anggota, serta badan-badan pengambil keputusan di FIFA sebelum diumumkan kepada publik.
Hak Komersial Piala Dunia Jadi Sorotan
Inti dari perdebatan ini adalah pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE), perusahaan komersial yang diusulkan untuk mengelola hak-hak bisnis berbagai kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia.
Hak-hak tersebut mencakup:
- Sponsorship
- Hak siar
- Lisensi
- Penjualan tiket
FIFA menegaskan bahwa mereka tetap akan memegang kendali penuh atas aspek olahraga dari seluruh turnamen. Namun, dengan melibatkan investor eksternal, FIFA berharap dapat memperoleh pendapatan tambahan yang nantinya digunakan untuk mendukung pengembangan sepak bola di berbagai negara.
Tekanan terhadap Infantino Semakin Besar
Pernyataan CONCACAF menjadi pukulan terbaru bagi rencana Gianni Infantino. Organisasi tersebut menegaskan bahwa seluruh anggota keluarga besar FIFA seharusnya menjalankan prinsip transparansi, konsultasi, dan akuntabilitas kelembagaan yang sama.
Sikap CONCACAF menyusul kritik serupa yang lebih dulu disampaikan UEFA, sehingga tekanan terhadap FIFA semakin meningkat di tengah munculnya berbagai pertanyaan mengenai salah satu perubahan komersial terbesar dalam sejarah organisasi tersebut.
Tidak ada nilai investasi maupun angka transaksi yang diumumkan dalam proposal tersebut, sehingga tidak terdapat nominal mata uang asing yang dapat dikonversi ke rupiah dalam laporan ini.

