OLEH: NABIL M. SALIM
DI TENGAH menjamurnya kedai kopi modern dengan desain industrial dan menu berbahasa Inggris, sebuah kedai kopi kayu tua di sudut Kuntian, Pontianak, tetap bertahan dengan caranya sendiri: ramah.
Warga mengenalnya sebagai Kedai Kopi Toke Lim, berdiri sejak 1958. Tidak ada barista dengan celemek kulit, tidak ada mesin espresso seharga motor. Hanya kompor arang, saringan kain yang sudah menghitam oleh waktu, dan seorang Amoi — anak si toke — yang selalu menyapa pelanggan dengan nama.
Namanya Mei. Bukan nama panggung, bukan selebgram. Ia hanya anak kedai kopi yang sejak SD sudah hafal cara menuang kopi O, kopi susu kental manis, dan membedakan mana kue lapis yang masih hangat dan mana onde-onde yang baru digoreng pagi itu.
“Dari kecil saya lihat Ayah tidak pernah anggap pembeli itu pelanggan. Ayah anggap mereka keluarga yang numpang duduk,” kata Mei sambil menata kue putu dan kue bingka di etalase kaca.
Cantik? Tentu. Kulit bersih, mata ramah, senyum yang tidak dibuat-buat. Tapi tanya pada Pak Ateng, pelanggan setia 27 tahun, kenapa ia tetap datang setiap pagi jam 6.
“Bukan karena Amoinya cantik,” katanya tertawa. “Anak saya juga cantik. Saya kesini karena kalau saya tidak datang dua hari, Mei tanya, ‘Pak Ateng kemana? Sakit kah?’ Di kedai lain, mana ada yang tanya begitu?”
Itulah yang membedakan Legenda Amoi Kuntian.
Di kedai ini, orang tidak datang hanya untuk kafein. Mereka datang untuk merasa diingat. Duduk di bangku kayu yang sama, pesan kopi yang sama, mendengar cerita yang sama — dan setiap cerita dihargai.
Anak muda Pontianak yang merantau ke Jakarta atau Malaysia, saat pulang, tujuan pertamanya bukan mall. Tapi kedai ini.
“Kangen disapa,” kata Riko, pekerja migran yang baru pulang dari Sarawak. “Di rantau orang panggil kita ‘bos’. Di sini dipanggil ‘adek’ sambil dikasih kue lapis gratis.”
Sang ayah, Toke Lim yang kini sudah 78 tahun, hanya duduk di belakang, mengangguk-angguk. Ia tidak jago promosi. Ia jago mengingat. Siapa cucunya siapa, siapa yang tidak suka gula, siapa yang sedang berduka.
Filosofi kedainya sederhana, tertulis di dinding kayu dengan cat putih yang sudah pudar:
Rumah punya kopi, Warkop punya cerita.
“Kopi kami mungkin pahit,” kata Mei menutup obrolan, “Kue kami mungkin manis. Tapi kalau orang pulang dengan hati senang, itu yang bikin kedai Ayah jadi legenda.”
Dan di Kuntian, legenda tidak butuh viral. Cukup dikenang, dan terus diceritakan dari cangkir ke cangkir.
*Nabil M Salim, Penikmat Kopi


