Setiap kali kita berkunjung ke negara maju, kita selalu terkagum-kagum dengan suasana yang kita lihat. Gedung-gedung pencakar langit, infrastruktur yang lengkap, transportasi yang nyaman, tata kota yang rapih lagi bersih, dan masyarakatnya yang disiplin.
Secara tidak sadar sering terucap, “Coba di negara kita begini.”
Sebagai orang yang kerap berhubungan dengan orang asing, karena awalnya dia seorang eksportir mebel, keinginan itu pasti juga ada dalam benak Jokowi. Ndilalah garis tangannya membawa dia menjadi pejabat: Walikota, Gubernur dan bahkan menjadi presiden selama 2 periode, Mimpi itu coba diwujudkannya. Maka maraklah pembangunan Jalan tol di beberapa wilayah di Indonesia, terutama di Pulau Jawa; Bandara-bandara baru; Kereta bawah tanah (MRT); LRT; Kereta Cepat (Whoosh); hingga pembangunan ibukota baru. Jokowi juga tak lupa membangun bendungan-bendungan, pembangkit tenaga listrik, dan pembangunan fisik lainnya.
Harapannya dengan pembangunan itu, perekonomian akan merangkak naik karena pergerakan orang dan barang menjadi lebih cepat. Produktivitas hasil pertanian juga akan meningkat — terutama tanaman pangan — karena pembangunan bendungan-bendungan baru.
Sampai Agustus 2024 ini sudah hampir 10 tahun Presiden Jokowi memimpin Indonesia. Tinggal 2 bukan lagi jabatannya akan berakhir. Apakah kemajuan yang pernah dijanjikan Jokowi bagi Indonesia terwujud? Ternyata tidak! Tingkat pengangguran makin tinggi; perekonomian melemah; impor terus meningkat (terutama bahan pangan); kurs Rupiah terhadap Dolar terus melemah; harga-harga terus naik, termasuk harga beras yang jadi kebutuhan utama rakyat; jenis pajak semakin banyak; hutang luar negeri terus bertambah; dan berbagai kelemahan lain yang menyengsarakan rakyat. Kalau ada yang sangat dinikmati sebagian rakyat adalah program Bansos dan BPJS Kesehatan.
Sepertinya ada yang salah dalam desain pembangunan pemerintahan Jokowi. Pembangunan infrastruktur yang sangat masif (massive) ternyata tidak menciptakan trickle down effect. Rakyat tidak menikmati hasil pembangunan yang jor-joran itu dalam bentuk pertumbuhan ekonomi. Yang terjadi justru beban rakyat semakin berat karena harus ikut menanggung beban utang negara, melalui berbagai jenis pajak yang diciptakan pemerintah. Belum lagi jika wacana semua kendaraan bermotor wajib diasuransikan terjadi, makin sempurnalah penderitaan rakyat.
Pembangunan jalan tol memang perlu, dengan catatan, itu tidak dibiayai dari hasil hutang. Kemajuan ekonomi yang dihasilkan dari jalan tol dan bandara baru, perlu dihitung dengan cermat. Karena jalan tol dan bandara bukan investasi produktif yang sesungguhnya, jika dihitung dari modal yang dikeluarkan dan pengembalian investasinya. Apalagi pembangunan LRT dan Kereta Cepat, yang lebih mengedepankan ego dibandingkan hitung-hitungan ekonomi yang dilakukan.
Padahal untuk kepentingan itu, terutama jalan tol, ratusan ribu, mungkin jutaan hektar lahan produktif yang dikorbankan.
Jika sebelum dibangun jalan tol, lahan-lahan produktif itu bisa membuat pemiliknya berswasembada pangan, setelah mereka “menjual” lahannya kepada investor jalan tol, mereka harus membeli. Dan pemerintah yang bertanggungjawab untuk menyediakan stock pangan, harus menambah jumlah impornya. Itulah yang terjadi dengan Indonesia sekarang.
Kita tidak tahu sampai kapan pemerintah bisa bertahan untuk menyediakan anggaran impor, karena kecenderungan kurs dollar terus meningkat, yang membuat pembayaran barang impor juga naik. Sementara pemerintah harus mencicil utang luar negeri yang jumlahnya juga terus meningkat.
Jokowi tidak memperhitungkan kelemahan program pembangunan infrastruktur yang diimpikannya. Tetapi Mimpi Jokowi adalah mimpi dari sebagian besar kita, yang memilih beli gadget mahal ketika punya duit, ketimbang mengganti kasur di rumah yang sudah kempes dan dekil. Saat ini, dalam keadaan negara susah, Jokowi sedang bermimpi mewujudkan Ibukota Nusantara (IKN) yang desainnya mirip seperti kota-kota dalam film fantasi Hollywood.
Mimpi memiliki Kereta Cepat boleh, punya ibukota baru tak ada yang larang. Tapi kalau semua dibangun dari hasil hutang, Mana tahan? (herman wijaya)

