JAKARTA,TERMINALNEWS.ID -| Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan bahwa penanganan dampak bencana tidak hanya berfokus pada pemulihan kesehatan fisik, tetapi juga mencakup pemulihan kesehatan jiwa masyarakat terdampak.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan, banyak korban bencana terutama anak-anak mengalami trauma mendalam akibat kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal, maupun rasa aman. Kondisi tersebut membutuhkan penanganan khusus agar tidak berkembang menjadi gangguan mental berkepanjangan.
“Yang kita beresin bukan hanya kesehatan fisik, tapi juga kesehatan jiwanya,” ujar Menkes Budi dalam Konferensi Pers Update Penanganan Bencana Sumatra di Grha BNPB, Jakarta, Rabu (7/1).
Sebagai bentuk respons, Kemenkes mengerahkan relawan psikolog klinis ke wilayah terdampak bencana. Dalam setiap pengiriman tim kesehatan, Kemenkes menyertakan sekitar 30 hingga 35 psikolog klinis yang bertugas memberikan pendampingan psikososial bagi para penyintas.
Para psikolog tersebut melakukan berbagai aktivitas pemulihan mental, seperti bercerita, bermain, serta kegiatan interaktif lainnya, khususnya bagi anak-anak di lokasi pengungsian. Pendekatan ini dilakukan untuk membantu korban kembali merasa aman, nyaman, dan perlahan pulih dari trauma.
Menkes menilai langkah tersebut penting karena dampak bencana tidak selalu terlihat secara fisik. Trauma psikologis yang tidak ditangani dengan baik berpotensi menghambat proses pemulihan sosial masyarakat.
Selain itu, upaya pemulihan kesehatan jiwa juga dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor serta melibatkan tokoh publik guna menciptakan suasana positif di lingkungan pengungsian.
Pemulihan kesehatan mental ini dilaksanakan seiring dengan pemulihan layanan kesehatan fisik, sehingga masyarakat terdampak dapat bangkit secara menyeluruh. Menkes Budi berharap perhatian terhadap kesehatan jiwa dapat mempercepat proses pemulihan dan memperkuat ketahanan masyarakat pascabencana.

