DENPASAR, TERMINALNEWS.ID -Kabar duka datang dari dunia tinju Indonesia. Mantan petinju kebanggaan nasional, Pino Bahari, mengalami kecelakaan saat mengendarai sepeda motor di Denpasar, Bali, pada Senin (13/4/2026). Insiden tersebut terjadi ketika ia berusaha menghindari pengendara lain yang berputar arah secara mendadak.
Akibat kecelakaan itu, peraih medali emas Asian Games 1990 tersebut mengalami patah engkel kaki kiri serta patah tulang rusuk kiri bagian belakang sebanyak empat ruas. Meski kondisi cukup serius, Pino bersyukur tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
“Saya mengalami kecelakaan saat menghindari pengendara motor wanita yang mutar mendadak. Dia hanya luka ringan, sementara saya mengalami patah engkel dan tulang rusuk,” ungkapnya.
Pino langsung dilarikan ke Rumah Sakit Bali Mandara dan menjalani operasi pada Rabu (15/4/2026) dengan bantuan BPJS. Setelah beberapa hari perawatan, ia akhirnya diperbolehkan pulang, namun proses pemulihan masih panjang dan membutuhkan biaya lanjutan.
Di balik prestasinya yang pernah mengharumkan nama bangsa di ajang Asian Games, serta partisipasinya di Olimpiade 1992 dan 1996, kehidupan Pino kini jauh dari kata sejahtera. Ia sempat bekerja sebagai pengemudi ojek online demi memenuhi kebutuhan keluarga, sebelum akhirnya beralih menjadi pekerja lepas di event tinju lokal.
“Penghasilan tidak menentu, hanya mengandalkan freelance,” katanya lirih.
Kondisi ini memperlihatkan realitas pahit yang masih dihadapi sebagian mantan atlet Indonesia. Tanpa jaminan pensiun yang memadai, mereka harus berjuang sendiri di masa tua, bahkan ketika kondisi fisik sudah tidak lagi prima.
Pino pun berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah, khususnya Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, terhadap atlet yang pernah berjasa mengibarkan Merah Putih di kancah internasional.
“Berat rasanya, kami mantan atlet nasional tidak mendapatkan dana pensiun,” keluhnya.
Sorotan juga mengarah pada minimnya respons dari berbagai pihak, termasuk komunitas olahraga dan organisasi terkait, yang dinilai belum maksimal dalam memberikan dukungan kepada mantan atlet berprestasi.
Kisah Pino Bahari menjadi cermin bahwa kejayaan di masa lalu tidak selalu menjamin kesejahteraan di masa depan. Di balik gemuruh tepuk tangan dan lagu Indonesia Raya yang pernah berkumandang, ada realitas sunyi yang kini harus dihadapi sendirian.


