BEKASI,TERMINALNEWS.ID – Langit malam Jatisampurna, Bekasi, Minggu (10/8), dipenuhi cahaya lampu arena dan riuh tepuk tangan. Di tengah suasana yang memadukan kemewahan sportainment dan aroma kompetisi kelas dunia, The President Cup Aragon Merdeka Master 2025 menggelar babak puncaknya. Untuk pertama kalinya, ajang berkuda ini memperebutkan Piala Presiden Republik Indonesia.
Sorotan malam itu tak hanya pada 390 ekor kuda terbaik yang bersaing di lintasan, tetapi juga pada kehadiran Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Dito Ariotedjo. Dengan setelan kasual elegan, Dito menyapa atlet, pelatih, hingga penonton, sambil menegaskan misi jangka panjang: Indonesia harus membawa olahraga berkuda ke Olimpiade.
“Kita di Asia Tenggara sudah memimpin. Sekarang saatnya kita menembus Olimpiade. Tapi untuk itu, industrinya harus kita perkuat terlebih dahulu,” ujar Dito, menggarisbawahi kolaborasi dengan Pordasi dan dukungan lintas sektor pemerintah maupun swasta.
Bagi Dito, ajang ini punya makna ganda. Selain menjadi perayaan Hari Kemerdekaan ke-80 RI dengan semangat nasionalisme, kejuaraan ini adalah uji coba strategis menuju SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade 2028 di Los Angeles.
Ketua Umum PP Pordasi, Aryo Djojohadikusumo, membocorkan bahwa konsep night equestrian ini terinspirasi dari kesuksesan negara-negara Timur Tengah seperti Qatar dan Dubai. “Acara malam punya daya tarik luar biasa untuk penonton. Inilah wajah baru sportainment Indonesia—gabungan prestasi dan hiburan kelas dunia,” ujarnya.
Dengan 1.751 entry dari berbagai kategori usia (U14 hingga Open) dan regulasi internasional Fédération Equestre Internationale (FEI), The President Cup Aragon Merdeka Master 2025 menunjukkan bahwa Indonesia siap bersaing di panggung global, baik dari sisi teknis maupun penyelenggaraan.
Turut hadir di antara penonton VIP malam itu adalah Ratu Tisha, Teuku Riefky Harsya, Muhammad Kadafi, serta selebritas pecinta kuda seperti Rachel Maryam dan Nabila Syakieb. Kehadiran figur publik ini mempertegas positioning equestrian sebagai olahraga yang elegan sekaligus inklusif.
Ketika lampu sorot menyinari arena, denting peluit wasit terdengar, dan derap kuda memecah keheningan malam, ada satu pesan yang terasa jelas: Indonesia tidak hanya ingin menjadi tuan rumah event besar, tetapi juga pemain utama di panggung olahraga berkuda.|Foto : Istimewa.

