Zakat di Istana: Teladan Kepemimpinan dan Penguatan Ekonomi Umat
JAKARTA,TERMINALNEWS.ID –| Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan jajaran Kabinet Merah Putih menunaikan zakat melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) di Istana Negara, Jakarta. Momentum ini dikemas dalam tajuk “Zakat Menguatkan Indonesia”, sekaligus menjadi bagian dari rangkaian sidang kabinet paripurna yang digelar pada bulan suci Ramadan.
Penyerahan zakat tersebut bukan sekadar seremoni. Di tengah suasana Ramadan yang sarat makna spiritual dan sosial, langkah para pemimpin negara ini mencerminkan komitmen untuk menempatkan zakat sebagai instrumen penting dalam membangun solidaritas sosial dan memperkuat kesejahteraan masyarakat.
Zakat Presiden Prabowo diterima oleh Ketua Baznas Sodik Mudjahid, yang kemudian memanjatkan doa bagi para muzaki. Dalam kegiatan tersebut, layanan Konter Zakat Istana berhasil menghimpun dana lebih dari Rp3,8 miliar dari 111 muzaki yang berasal dari unsur kabinet, pejabat negara, hingga jajaran penasihat presiden.
Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo menegaskan pentingnya peran Baznas dalam mengelola potensi zakat nasional. Menurut dia, lembaga-lembaga keuangan dan ekonomi dari berbagai organisasi keagamaan perlu dikoordinasikan dan dikonsolidasikan agar potensi ekonomi umat dapat dikelola secara lebih efektif.
Dengan dukungan teknologi dan tata kelola yang baik, potensi zakat diyakini mampu menjadi kekuatan ekonomi yang signifikan bagi bangsa.
Bagi Baznas, pelaksanaan “Zakat Istana” memiliki nilai simbolik sekaligus strategis. Sodik Mudjahid menyebutkan bahwa keteladanan Presiden dan Wakil Presiden memberikan dorongan moral yang kuat bagi masyarakat luas untuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah.
Pada Ramadan 2026, Baznas menargetkan penghimpunan zakat sebesar Rp515 miliar. Target ini merupakan bagian dari sasaran penghimpunan zakat Baznas pusat sebesar Rp1,4 triliun pada tahun 2026. Secara nasional, termasuk Baznas daerah dan lembaga amil zakat (LAZ), pengelolaan zakat ditargetkan mencapai Rp66 triliun.
Adapun selama Ramadan tahun ini, pengumpulan zakat secara nasional diproyeksikan dapat mencapai sekitar Rp6 triliun melalui sekitar 760 lembaga zakat yang tersebar di seluruh Indonesia.
Angka tersebut mencerminkan besarnya potensi zakat sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Karena itu, keteladanan para pemimpin negara diharapkan mampu menggerakkan partisipasi masyarakat yang lebih luas.
Di tengah berbagai tantangan sosial dan ekonomi, zakat bukan sekadar kewajiban ibadah. Ia juga merupakan jembatan solidaritas yang menghubungkan mereka yang berkecukupan dengan mereka yang membutuhkan. Dari Istana Negara, pesan itu kembali ditegaskan: bahwa kepemimpinan juga berarti memberi teladan dalam berbagi.

