BALI,TERMINALNEWS.ID -| Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana melihat sesuatu yang lebih dari sekadar festival di Ubud. Di tengah hamparan yoga mat, denting musik, dan aroma dupa, Bali Spirit Festival menjelma menjadi panggung besar: tempat Indonesia mempertaruhkan posisinya di industri wellness global.
Saat meninjau langsung di Puri Padi Hotel dan The Yoga Barn, Minggu (19/4/2026), Widiyanti tak sekadar datang sebagai pejabat. Ia hadir sebagai saksi bagaimana festival ini bekerja bukan hanya menghibur, tapi membangun narasi.
“Selama empat hari, festival ini menunjukkan Indonesia mampu menghadirkan IP event berkelas dunia,” ujarnya.
Tema “Welcome Home” yang diusung tahun ini bukan sekadar slogan. Ia terasa dalam setiap sesi: dari yoga yang intim, pertunjukan tari yang meditatif, hingga praktik healing yang meramu tradisi dan modernitas. Semuanya dirancang seperti perjalanan pulang ke tubuh, ke pikiran, ke diri sendiri.
Namun Bali Spirit Festival tidak berhenti pada pengalaman personal. Ada agenda yang lebih besar: keberlanjutan. Pengurangan plastik, pengelolaan sampah, hingga penggunaan composting toilet menjadi bagian dari pesan yang ingin ditegaskan bahwa wellness bukan hanya soal tubuh, tapi juga lingkungan.
Di sela agenda, Menpar menelusuri berbagai titik: Dharma Fair yang dipenuhi paket wellness, area kuliner sehat dan vegan, hingga The Grooves Stage tempat sesi “Hatha Flow” berlangsung. Semua bergerak dalam satu ritme: pelan, tapi pasti.
Data dari Global Wellness Institute menyebut Indonesia sebagai kontributor terbesar ekonomi wellness di Asia Tenggara dengan nilai 56,4 miliar dolar AS. Angka itu bukan sekadar statistik ia menemukan bentuk nyatanya di Ubud.
Tahun lalu, festival ini mencatat perputaran ekonomi Rp6,7 miliar. Angka yang mungkin terlihat kecil di atas kertas, tapi berdampak luas: dari kamar-kamar hotel yang terisi, dapur-dapur yang hidup, hingga seniman lokal yang mendapat panggung.
“Partisipasi lebih dari 60 negara menunjukkan daya tariknya yang semakin kuat di tingkat global,” kata Widiyanti.
Di Plataran Ubud, diskusi pun berlanjut. Bersama penyelenggara Ubud Writers & Readers Festival dan Ubud Village Jazz Festival, pemerintah mencoba merumuskan satu hal: bagaimana festival tak hanya ramai, tapi relevan.
Karena pada akhirnya, seperti disampaikan Widiyanti, festival bukan lagi sekadar agenda tahunan. Ia adalah instrumen.
Instrumen untuk bersaing,Instrumen untuk bertahan,dan mungkin, instrumen untuk menemukan kembali makna pariwisata itu sendiri.**

