TERMINALNEWS.ID, JAKARTA — Perjalanan panjang film horor Indonesia tidak hanya berbicara tentang hantu, mitos, atau adegan yang mengagetkan penonton.
Di balik popularitas genre tersebut, terdapat perjalanan budaya yang panjang, sekaligus pertanyaan penting tentang ke mana sinema horor Indonesia hendak dibawa.
Persoalan itu menjadi salah satu bahasan dalam diskusi film bertajuk “Mencari Jalan Pulang: Napak Tilas Identitas Sinema Horor Indonesia” yang berlangsung di Studio PFN Heritage, Jalan Otista Raya, Jakarta Timur, Kamis (13/8/2026).
Dalam diskusi tersebut, aktor, wartawan, sekaligus penulis Eddie Karsito menyoroti perkembangan film Indonesia dari perspektif budaya, industri, hingga kualitas cerita.
Menurut Eddie, film merupakan perpaduan antara karya seni dan komoditas. Sebagai produk budaya, film merekam nilai, norma, bahasa, serta identitas masyarakat. Sementara sebagai produk industri, film membutuhkan modal besar, strategi pemasaran, serta jaringan distribusi untuk menghasilkan keuntungan ekonomi.
“Film tumbuh dan berkembang karena ceritanya diminati masyarakat. Ketika sebuah cerita terasa dekat, relevan dan menyentuh emosi, penonton akan datang ke bioskop,” demikian salah satu gagasan yang disampaikan Eddie dalam diskusi tersebut.
Horor dan Kedekatannya dengan Budaya Lokal
Popularitas film horor di Indonesia, menurut Eddie, tidak terlepas dari kedekatan genre ini dengan budaya masyarakat. Mitos, legenda, kepercayaan lokal, hingga kisah-kisah yang berkembang di tengah masyarakat menjadi sumber cerita yang relatif mudah diterima penonton.
Ketertarikan masyarakat Nusantara terhadap film horor bahkan telah muncul sejak era Hindia Belanda.
Salah satu tonggak awalnya adalah film “Doea Siloeman Oeler Poeti en Item” yang dirilis pada 1934 dan disutradarai The Teng Chun alias Tahyar Idris. Setahun kemudian, Tahyar Idris kembali menghadirkan dua film yang mengangkat kisah siluman, yakni “Ang Hai Djie” dan “Tie Pat Kai Kawin”.
Sementara itu, film “Tengkorak Hidoep” yang disutradarai Tan Tjoei Hock pada 1941 menjadi bagian lain dari perjalanan awal genre horor di Indonesia.
Perjalanan tersebut kemudian berkembang melewati berbagai periode, mulai dari masa perintisan perfilman setelah kemerdekaan, era kejayaan Suzanna pada dekade 1980-an, hingga munculnya Jelangkung pada 2001 yang menjadi salah satu titik balik penting bagi kebangkitan film horor modern Indonesia.
Saat ini, film horor Indonesia bahkan telah berkembang dengan dukungan teknologi produksi yang jauh lebih maju.

Kualitas Visual Melompat, Cerita Jangan Tertinggal
Eddie melihat industri film Indonesia saat ini semakin beragam dan produktif. Jumlah penonton meningkat, genre film semakin bervariasi, dan karya-karya Indonesia memiliki peluang menjangkau penonton melalui berbagai platform global.
Namun, kemajuan tersebut juga menyisakan persoalan.
Menurut dia, terjadi ketimpangan antara perkembangan teknologi visual yang sangat cepat dengan kualitas penulisan cerita yang belum selalu mengikuti perkembangan tersebut.
Peningkatan mutu kamera, efek visual, CGI, tata artistik, hingga tata suara memang membuat film Indonesia semakin mampu bersaing secara teknis. Akan tetapi, kemajuan tersebut belum selalu diikuti plot yang logis, karakterisasi yang kuat, maupun kedalaman cerita.
“Film Indonesia mengalami shock culture antara pendekatan teknik dan ceritanya,” ujar Eddie dalam paparannya.
Di satu sisi, perkembangan teknologi memberikan dampak positif. Kualitas visual film lokal semakin mendekati standar internasional, penggunaan CGI dan tata artistik semakin serius, sementara teknologi produksi membuat adegan aksi maupun horor tampil lebih mencekam.
Di sisi lain, persoalan naskah masih menjadi pekerjaan rumah.
Alur cerita, misalnya, terkadang lebih mengutamakan efek kejut atau mengikuti tren pasar dibandingkan membangun logika cerita yang kuat. Sebagian film juga dinilai kurang berpijak pada realitas sosial, sementara dialog dan eksplorasi tema terkadang terasa berulang.
Ketika Bahasa Lokal Hanya Menjadi Tempelan
Salah satu persoalan yang mendapat perhatian Eddie adalah penggunaan bahasa dan budaya lokal dalam film horor.
Menurutnya, kurangnya riset mendalam terhadap subkultur lokal dapat membuat dialog dan logat bahasa daerah terdengar kaku, tidak natural, bahkan “kurang nyambung”.
Bahasa daerah, kata Eddie, semestinya tidak hanya digunakan sebagai tempelan untuk menciptakan kesan mistis. Bahasa harus menjadi bagian dari kehidupan dan karakter tokoh.
Kesalahan juga dapat terjadi ketika penulis hanya mengandalkan terjemahan harfiah tanpa memahami konteks sosiolinguistik masyarakat setempat.
Dalam cerita yang berbasis budaya Jawa, misalnya, penggunaan bahasa krama dan ngoko perlu disesuaikan dengan usia, status sosial, hubungan antartokoh, serta situasi percakapan.
Begitu pula dengan aksen. Aktor yang dipaksa menggunakan logat daerah tertentu tanpa memahami karakteristik penutur aslinya berpotensi menghasilkan dialog yang terdengar artifisial.
Persoalan tersebut bukan sekadar masalah teknis. Bagi penonton lokal yang memahami bahasa dan budaya tersebut, dialog yang janggal dapat mengganggu imersi.
Lebih jauh lagi, Eddie mengingatkan adanya risiko reduksi budaya, ketika tradisi dan mitos lokal kehilangan makna filosofisnya karena hanya dimanfaatkan sebagai perangkat untuk menghasilkan jump scare.
Mengembalikan “Roh” Film kepada Cerita
Bagi Eddie, cerita tetap merupakan cetak biru utama sebuah film.
Cerita yang adaptif mampu menjembatani materi asli dengan bahasa visual sehingga penonton dapat membangun ikatan emosional dengan karakter dan dunia yang ditampilkan di layar.
Karena itu, kekuatan sebuah film tidak semata-mata ditentukan oleh mahalnya biaya produksi, kecanggihan kamera, atau kemegahan efek visual.
“Roh film yang sesungguhnya tidak semata-mata terletak pada kemegahan alat atau mahalnya biaya produksi, melainkan pada kejujuran rasa, daya hidup cerita, dan hubungan emosional yang terjalin antara karya dengan penontonnya,” papar Eddie.
Ia menegaskan, film pada akhirnya bukan sekadar hiburan. Film juga merupakan cermin nilai dan sumber pembelajaran kehidupan.
Melalui film, masyarakat dapat melihat kembali persoalan sosial, etika, estetika, tradisi, serta cara manusia berhubungan dengan lingkungannya.
Karena itu, sinema horor Indonesia dinilai perlu terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya. Teknologi dan teknik produksi boleh bergerak maju, tetapi identitas, konteks sosial, serta kekuatan cerita tidak semestinya ditinggalkan.
“Mencari Jalan Pulang” dengan demikian bukan sekadar perjalanan menengok sejarah film horor Indonesia, melainkan juga ajakan untuk menemukan kembali identitas dan roh sinema Indonesia di tengah derasnya perubahan industri.
Salam Sinema Indonesia.
Tentang Eddie Karsito
Eddie Karsito dikenal sebagai aktor, wartawan, dan penulis buku Menjadi Bintang – Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film, dan Televisi. Ia telah terlibat dalam berbagai produksi film layar lebar dan televisi, termasuk sejumlah karya bergenre horor.
Di layar lebar, Eddie antara lain tampil dalam Pocong 1 & 2 arahan Rudi Soedjarwo, Kesurupan karya Rizal Mantovani, Anak Setan, Hantu Taman Lawang, Hantu Biang Kerok, serta Sumur Jiwo 1977.
Pengalamannya di genre horor juga mencakup berbagai produksi televisi dan sinetron, di antaranya Ghost, Legenda, Hidayah, Iman, Keajaiban, Insyaf, Kolor Ijo, Black Magic, Tragedi Pacet Berdarah, dan O’Seraam.

