JAKARTA,TERMINALNEWS.ID -| Di tengah klaim situasi yang aman dan kondusif, angka-angka tetap berbicara jujur. Pelaksanaan Operasi Ketupat 2026 pada hari ke-10 memang berjalan tanpa gangguan kamtibmas yang menonjol. Namun di balik stabilitas itu, jalan raya masih menjadi ruang paling rawan bagi para pemudik.
Sebanyak 292 kecelakaan lalu lintas dalam kurun 12 jam bukan sekadar statistik. Delapan nyawa melayang, puluhan orang mengalami luka berat, dan ratusan lainnya luka ringan. Ini adalah pengingat bahwa mudik bukan hanya soal sampai tujuan, tetapi juga tentang bagaimana perjalanan itu dijalani.
Arus kendaraan yang telah menembus lebih dari dua juta unit keluar Jakarta menandakan bahwa mobilitas masyarakat masih tinggi. Lebih dari separuh proyeksi sudah bergerak, tetapi fase krusial justru belum usai. Arus balik di depan mata, dengan potensi kepadatan yang jauh lebih kompleks.
Di titik ini, imbauan kepolisian bukan sekadar formalitas. Keselamatan menjadi tanggung jawab bersama pengemudi, penumpang, hingga pengelola destinasi wisata. Terlebih saat masyarakat mulai beralih dari perjalanan mudik ke aktivitas rekreasi, risiko berpindah dari jalan tol ke kawasan wisata, terutama yang berbasis air.
Kebijakan Work From Anywhere (WFA) dan diskon tarif tol sejatinya menjadi instrumen untuk memecah kepadatan. Namun efektivitasnya sangat bergantung pada kesadaran publik. Tanpa perencanaan perjalanan yang matang, puncak arus balik pada 24 serta 28–29 Maret berpotensi menjadi ujian berikutnya.
Mudik adalah tradisi, tetapi keselamatan adalah pilihan. Di tengah euforia Lebaran, kehati-hatian tidak boleh ikut ditinggalkan.


