JAKARTA,TERMINALNEWS.ID— Ruang publik Jakarta kembali menjadi panggung persaudaraan. Di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Selasa (17/2), Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bersama Wakil Gubernur Rano Karno menghadiri perhelatan Transisi Ramadan 1447 Hijriah sebuah perayaan yang menjembatani suasana Tahun Baru Imlek menuju datangnya Bulan Suci Ramadan.
Mengusung tema “Double Blessing: Chinese New Year dan Ramadan Kareem”, acara ini menjadi simbol pertemuan dua momentum besar keagamaan dan budaya, sekaligus cerminan wajah Jakarta yang majemuk.
Rano Karno menyebut, hadirnya dua perayaan dalam satu waktu merupakan keberkahan tersendiri bagi warga ibu kota.
“Dua momentum besar ini kita sambut bersama. Mudah-mudahan Ramadan dapat kita mulai dengan penuh keberkahan, sekaligus memperkuat persatuan di tengah keberagaman,” ujarnya.
Sejak siang hari, kawasan Bundaran HI telah dipenuhi ragam ekspresi seni Nusantara bernuansa Islami. Tari Rantoh Jaroe dari Aceh, Randai dari Sumatera Barat, Rampak Bedug dari Banten, hingga Zapin Betawi tampil bergantian. Harmoni budaya semakin terasa dengan hadirnya barongsai dan liong, merepresentasikan semangat Imlek yang berpadu dengan atmosfer Ramadan.
Nuansa religius turut mengalir lewat lantunan nasyid, marawis, dan hadrah. Puncaknya, sebanyak 400 anak mengikuti Pawai Obor Elektrik mengarak cahaya sebagai simbol penyambutan Ramadan dengan semangat kebersamaan.
Menurut Rano, Transisi Ramadan dirancang bukan sekadar seremoni, tetapi juga sebagai pengalaman visual yang membekas bagi warga dan pengunjung kota. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi ikon pembuka Ramadan di Jakarta, terlebih menjelang peringatan 500 tahun Jakarta yang akan datang.
“Ke depan, konsepnya akan kami kemas lebih besar,” katanya.
Tak hanya pertunjukan budaya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menyiapkan program pendukung berupa diskon di pusat-pusat perbelanjaan yang berlangsung sepanjang Ramadan hingga Lebaran. Langkah ini diharapkan mampu menggerakkan roda ekonomi sekaligus memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, Transisi Imlek–Ramadan menjadi pengingat bahwa Jakarta tumbuh dari keberagaman dan persatuan selalu menemukan jalannya melalui budaya.

