JAKARTA,TERMINALNEWS.ID— Setelah tiga bulan menjalani rehabilitasi akibat kasus penyalahgunaan narkoba, musisi dan artis Onadio Leonardo akhirnya kembali ke ruang publik. Bukan dengan pembelaan diri, melainkan dengan pengakuan jujur tentang proses mengenali dirinya sendiri.
Dalam podcast Deddy Corbuzier yang tayang Sabtu (31/1/2026), Onad membuka kisah awal yang ia sebut sebagai kesalahan cara pandang.
“Aku pikir kayak pakai seatbelt aja, coba-coba sekali enggak masalah,” ujar Onad.
Pandangan ringan itu, menurutnya, runtuh sepenuhnya ketika ia menjalani rehabilitasi dan bertemu dengan sesama pengguna narkoba. Ia menyaksikan sendiri bagaimana zat adiktif menggerus identitas manusia secara perlahan.
“Ada yang sampai lupa nama dirinya sendiri,” tuturnya lirih.
Pengalaman tersebut mendorong Onad untuk berkonsultasi lebih jauh dengan psikolog di tempat rehabilitasi. Dari proses terapi itulah, ia menyadari bahwa persoalannya bukan sekadar soal rekreasi atau pelarian sesaat.
“Aku kulik, apa sih yang ada di diriku. Ternyata bukan recreation,” katanya.
Hasil terapi mengarah pada sebuah kondisi psikologis yang selama ini jarang dibicarakan secara terbuka: sindrom Peter Pan istilah yang merujuk pada individu yang kesulitan melepaskan diri dari fase muda dan enggan menghadapi kedewasaan sepenuhnya.
“Aku tidak bisa move on dari golden age saat masih 19 tahun,” ungkap Onad blak-blakan.
Ketika Dewasa Menjadi Hal yang Ditakuti
Istilah sindrom Peter Pan pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Dan Kiley dalam bukunya The Peter Pan Syndrome: Men Who Have Never Grown Up (1983). Kiley menggambarkan kondisi ini sebagai kesulitan psikologis dalam menerima tanggung jawab, batasan, dan realitas kedewasaan terutama pada pria.
Menurut Kiley, faktor lingkungan keluarga memegang peranan besar, khususnya relasi anak laki-laki dengan ayahnya.
“Ayah memiliki peran kunci dalam pertumbuhan dan perkembangan putra mereka,” tulis Kiley.
Ia menilai, ketika figur ayah bersikap dingin, absen secara emosional, atau terputus dari anaknya, maka proses pembentukan disiplin dan kepercayaan diri menjadi timpang. Dalam kondisi ini, anak cenderung mencari perlindungan pada ibu yang tanpa disadari bisa bersikap terlalu memanjakan.
Akibatnya, anak tumbuh tanpa kesiapan menghadapi risiko, tanggung jawab, dan batasan yang melekat pada fase dewasa.
Lingkaran Emosi yang Tak Pernah Usai
Dalam pengamatan klinisnya, Kiley juga menemukan pola lain: sindrom Peter Pan kerap muncul pada anak laki-laki yang tumbuh dalam keluarga dengan relasi penuh dendam dan saling menyalahkan. Orang tua tetap bertahan dalam hubungan yang rapuh demi citra sosial, sementara konflik disembunyikan di ruang privat.
“Seorang ibu akan melakukan kompensasi emosional berlebihan dan bergantung pada putranya,” tulis Kiley.
“Sedangkan ayah menggunakan anak sebagai penengah untuk menghindari konflik pernikahan.”
Situasi ini menempatkan anak dalam beban emosional yang tak semestinya. Ia tumbuh menjadi pribadi yang terjebak dalam siklus keinginan menyenangkan orang lain, tanpa pernah benar-benar berdamai dengan dirinya sendiri sebuah “masa kanak-kanak yang abadi” dalam tubuh orang dewasa.
Pengakuan Onadio Leonardo membuka ruang diskusi yang lebih luas: bahwa penyalahgunaan narkoba, dalam banyak kasus, bukan sekadar persoalan zat, melainkan gejala dari konflik batin yang tak pernah selesai. Dan rehabilitasi, pada akhirnya, bukan hanya tentang berhenti melainkan tentang berani tumbuh.|Foto : Instagram@OnardioLeonardo

