JAKARTA, TERMINALNEWS.ID – Rockafella’s dan RockJam menggelar konser “Tribute Impassionate: The Doors & Led Zeppelin 70’s Revival” di Fat & Sim Rooftop Lounge, Jakarta (14/02/25). Konser ini membawa nuansa rock klasik dari era akhir ’60-an hingga ’70-an, dengan penampilan yang menyajikan suasana dan musik khas dua band legendaris tersebut.
The Doors dan Led Zeppelin adalah dua nama besar yang meninggalkan pengaruh besar dalam sejarah musik rock. The Doors dengan gaya psychedelic-nya yang ikonik, sementara Led Zeppelin dikenal dengan musik hard rock dan progresif yang kuat. Nama Jim Morrison dan Robert Plant menjadi simbol rock yang legendaris di era itu, dan malam ini, Rockafella’s dan RockJam berusaha menghidupkan kembali semangat dan energi kedua band tersebut di panggung.
Konsep konser ini berawal dari ide Adhytia Perkasa dan Riffy Putri dari Rockafella’s, bersama Adi dari RockJam, yang ingin membawa kembali atmosfer rock klasik, dengan fokus pada tema Flower Power dan Old School Rock. “Kami ingin membawa kembali nuansa rock klasik dan memberikan penghormatan pada The Doors dan Led Zeppelin. Kami berharap acara ini bisa memperkenalkan musik rock klasik pada generasi muda, khususnya Gen Z,” kata Adhytia.
Riffy menambahkan bahwa meskipun kedua band ini berasal dari era yang sama, gaya musik mereka sangat berbeda. “The Doors lebih ke arah psychedelic, sementara Led Zeppelin lebih pada hard rock dan progresif. Kami ingin menciptakan kesatuan dengan menggabungkan keduanya dalam konser ini,” ujarnya.

RockJam dipilih sebagai kolaborator karena kemampuannya membawakan lagu-lagu Led Zeppelin yang jarang dimainkan oleh band lain. “RockJam berani membawakan lagu-lagu yang lebih jarang dimainkan dari Led Zeppelin. Mereka tampil total dengan kostum, sound, dan peralatan khas seperti mandolin, bow, dan theremin,” kata Riffy.
Pada pukul 20.00 WIB, Rockafella’s membuka konser dengan lagu “Roadhouse Blues”, yang dibawakan oleh vokalis Riffy. Setelah beberapa lagu, mic berganti tangan, dan Adhytia sebagai drummer mengendalikan panggung dengan lagu-lagu seperti “Riders on the Storm”, “L.A. Woman”, dan “Peace Frog”. Panggung semakin meriah dengan hadirnya Njet Barmansyah sebagai bintang tamu, yang membawakan “Love Me Two Times”, “Break on Through”, dan “Touch Me”.
“Ini ajakan yang nggak bisa saya tolak. Meskipun saya lebih dikenal dengan The Flower atau Rolling Stones, saya sangat suka dengan The Doors,” kata Njet setelah penampilannya.

Setelah penampilan Njet, Adhytia dan Riffy bergantian membawakan lagu-lagu The Doors, dengan “Light My Fire” sebagai penutup penampilan Rockafella’s malam itu.
Penampilan berikutnya, yang ditunggu banyak orang, adalah dari RockJam, yang membawa suasana Led Zeppelin kembali ke panggung. Adi, vokalis RockJam, tampil meniru gaya Robert Plant, Adhytia kembali tampil sebagai John Bonham, dan gitaris lainnya tampil seperti Jimmy Page, sementara Wahyu dan Bimbim mewakili personel lainnya.
RockJam membuka penampilan mereka dengan lagu “Rock and Roll”, “Bring It On Home”, dan “Misty Mountain Hop”. Setelah itu, Adi menyapa penonton dan mengucapkan terima kasih kepada Fat & Sim dan semua pihak yang mendukung acara ini, termasuk Veller Nyentrik yang menyediakan kostum sesuai tema.
Penampilan RockJam berlanjut dengan lagu-lagu seperti “In My Time of Dying”, “Battle of Evermore”, “Ramble On”, dan “Since I’ve Been Loving You”. Di sela-sela lagu, Adi juga berbagi cerita tentang latar belakang lagu-lagu yang mereka bawakan.

Di penghujung acara, RockJam menghadirkan medley “The Song Remains the Same”, “The Rain Song”, dan “Stairway to Heaven”, sebelum menutup penampilan mereka dengan “Moby Dick”, “Heartbreaker”, dan “Whole Lotta Love”. Energi panggung semakin memuncak, dan penonton ikut bernyanyi bersama.
Adi merasa puas dengan penampilan RockJam malam itu. “Kami sengaja memilih lagu-lagu dari album ‘Live The Song Remains the Same’ karena ingin memberikan pengalaman yang mirip dengan penampilan Led Zeppelin di Madison Square Garden. Kami tampil total, seperti yang Riffy bilang, dengan kostum dan peralatan yang sesuai dengan visual album. Alhamdulillah, semuanya bisa terlaksana,” kata Adi.
Konser ini sukses besar, dengan penonton yang sebagian besar mengenakan pakaian khas rock era ’60-an dan ’70-an. “Saya sangat senang dengan hasil malam ini. Penonton yang hadir sudah sesuai dengan yang kami harapkan—semangat dan penuh dedikasi,” kata Riffy. “Kami juga senang melihat banyak orang asing yang datang karena mereka tertarik dengan acara ini, ditambah lagi anak-anak muda yang menyanyikan lagu-lagu yang kami bawakan. Ini luar biasa.”
Rockafella’s tetap menjadi andalan di scene musik rock Jakarta, dan penggemar dapat menantikan lebih banyak tribute performance seru di masa depan. Riffy dan Adhytia sudah merencanakan konsep baru yang akan hadir setelah Idul Fitri 2025, memberikan janji pengalaman rock yang lebih mendalam.
So, keep your eyes peeled for the next unforgettable rock night. With new concepts in the works, the future of rock in Jakarta looks as loud and exciting as ever.

