JAKARTA, TERMINALNEWS.ID – Upaya mengintegrasikan kreativitas dengan pembangunan berkelanjutan semakin digencarkan di Indonesia.
Symbia, sebuah organisasi yang fokus pada pemberdayaan pemuda, berkolaborasi dengan Kementerian Ekonomi Kreatif (KemenEkraf) menyelenggarakan program bertajuk “The Need for Creativity in Sustainability Efforts”.
Acara ini dirancang untuk memberdayakan pemuda dan pelajar agar mampu memadukan ide-ide kreatif dengan prinsip keberlanjutan.
Program yang berlangsung di Jakarta ini menghadirkan sejumlah narasumber terkemuka, di antaranya Founder Symbia Rayden Yap, Direktur Kriya Ekonomi Kreatif Kemenekraf Neli Yana, serta Muhamad Zaini dari Ecozystem Venture.
Mereka membagikan pengalaman, gagasan, hingga strategi konkret tentang bagaimana kreativitas dapat menjadi kunci dalam menjawab tantangan keberlanjutan di era modern.
Kreativitas sebagai Fondasi Keberlanjutan
Dalam paparannya, Rayden Yap menegaskan bahwa kreativitas merupakan fondasi penting bagi inovasi yang mendukung upaya keberlanjutan.
Menurutnya, tanpa ide kreatif, solusi atas tantangan lingkungan dan sosial akan sulit berkembang.
“Saya berharap melalui program ini lebih banyak pemuda dan pelajar memahami pentingnya mengintegrasikan kreativitas dengan upaya keberlanjutan. Mereka bisa menjadi pemimpin perubahan positif di komunitas masing-masing,” ujar Rayden.
Ia menambahkan, program ini diharapkan tidak hanya menjadi wadah berbagi pengetahuan, tetapi juga katalis yang mendorong lahirnya proyek-proyek kreatif yang berkelanjutan.
Sementara itu, Neli Yana menekankan peran strategis ekonomi kreatif dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.
Menurutnya, sektor ekonomi kreatif bukan hanya menghasilkan produk dengan nilai tambah tinggi, tetapi juga mampu menjadi solusi bagi berbagai tantangan sosial dan lingkungan.
“Ekonomi kreatif memiliki potensi besar untuk mendukung upaya keberlanjutan. Melalui kreativitas, kita bisa menciptakan inovasi yang tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga pada lingkungan dan masyarakat,” kata Neli.
KemenEkraf sendiri memberikan dukungan penuh terhadap program ini, mulai dari pengembangan kapasitas, fasilitasi pendanaan untuk proyek-proyek berkelanjutan, hingga promosi untuk meningkatkan visibilitas inisiatif yang lahir dari program tersebut.
Menambahkan perspektif lain, Muhamad Zaini dari Ecozystem Venture menyoroti pentingnya dukungan ekosistem dalam mengembangkan proyek kreatif yang berorientasi pada keberlanjutan.
Ia menyebut venture capital dapat berperan dalam mendukung inisiatif yang memiliki dampak sosial dan lingkungan positif.
“Ekosistem venture perlu ikut serta dalam mendukung proyek-proyek sustainability yang kreatif dan inovatif. Dengan kolaborasi lintas sektor, ide-ide pemuda bisa diwujudkan menjadi solusi nyata,” jelas Zaini.
Program “The Need for Creativity in Sustainability Efforts” berjalan sukses dengan antusiasme tinggi dari para peserta yang sebagian besar adalah pelajar dan mahasiswa.
Mereka tidak hanya mendengarkan paparan narasumber, tetapi juga berdiskusi aktif mengenai bagaimana kreativitas dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Symbia dan KemenEkraf, program ini dianggap sebagai langkah strategis untuk mendorong generasi muda agar lebih peduli pada isu keberlanjutan.
Dengan pemahaman yang baik dan keterampilan kreatif, diharapkan pemuda dapat mengambil peran sebagai agen perubahan di masyarakat.
“Kami melihat program ini sebagai model yang bisa direplikasi untuk inisiatif serupa di berbagai daerah. Kolaborasi antara sektor kreatif dan keberlanjutan akan semakin penting ke depan, dan pemuda harus berada di garis depan perubahan,” tambah Neli.
KemenEkraf menilai inisiatif ini sejalan dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam aspek inovasi, pendidikan, dan keberlanjutan lingkungan.
Melalui sinergi antara sektor swasta, pemerintah, dan komunitas, diharapkan semakin banyak ide kreatif yang mampu memberikan dampak luas.
Selain itu, keberhasilan program ini juga menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mengatasi berbagai tantangan global.
Dengan adanya dukungan kebijakan, pendanaan, serta ekosistem yang kondusif, pemuda dapat lebih leluasa menyalurkan ide-ide mereka untuk kebaikan masyarakat dan lingkungan.
Dengan suksesnya penyelenggaraan program ini, Symbia dan KemenEkraf berkomitmen untuk melanjutkan kerja sama di masa depan.
Mereka berharap, hasil dari program ini tidak berhenti pada tataran diskusi, melainkan melahirkan proyek nyata yang berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan.
“Kolaborasi ini bisa menjadi model inspiratif bagi inisiatif lain yang ingin menggabungkan kreativitas dengan keberlanjutan. Kami optimistis semakin banyak pemuda yang akan terlibat aktif dalam menciptakan solusi kreatif yang berdampak luas,” tutur Rayden.
Dengan semangat kolaborasi dan pemberdayaan generasi muda, program “The Need for Creativity in Sustainability Efforts” diharapkan mampu menjadi tonggak baru dalam upaya menjadikan kreativitas sebagai motor penggerak keberlanjutan di Indonesia.

