BerandaNewsNasionalSemar Bangun Kahyangan :...

Semar Bangun Kahyangan : Jamus Kalimasada dan Kebijaksanaan Laku Kepemimpinan

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID -| Lakon ini dapat dikatakan sebagai salah satu “lakon wajib” dalam jagat pedalangan. Daya tariknya tidak semata terletak pada alur cerita yang hidup dan mudah diikuti, melainkan pada kedalaman pesan moral yang disampaikan secara halus, khas tradisi kejawen. Nilai-nilai itu tidak diajarkan dengan nada menggurui, tetapi dihadirkan melalui dialog, simbol, dan laku para tokohnya. Tak mengherankan bila hampir semua dalang besar pernah membawakannya dengan tafsir dan kreativitas masing-masing, termasuk Ki H. Anom Suroto. Karena itulah, lakon ini begitu akrab di telinga dan batin para pecinta wayang kulit.

Berdasarkan sampul kaset dan izin produksinya, pementasan ini direkam pada tahun 1985. Artinya, hampir empat puluh tahun lebih berlalu sejak Ki H. Anom Suroto menghidupkan kembali lakon ini. Namun ketika didengarkan ulang, ide-ide yang dilontarkan terasa tetap segar dan relevan. Justru di situlah keunggulan wayang: ia melampaui zamannya. Meski demikian, mendengarkan wayang akan terasa lebih bermakna bila kita mencoba menghadirkannya kembali dalam konteks sosial saat pementasan itu berlangsung.

Baca Juga :   Kapolri Berikan Pelayanan Kesehatan Gratis Bagi Ribuan Orang Hari Ini

Lakon ini seakan membawa pendengarnya pada suasana Indonesia yang digambarkan ayem tentrem tanpa hiruk-pikuk politik, tanpa kegaduhan wacana, tanpa kegelisahan kolektif yang berlebihan. Dialog antartokoh tidak memancarkan kegundahan sosial yang tajam. Adegan goro-goro yang menampilkan kesulitan hidup para punakawan pun hadir sebagai realitas keseharian yang wajar, bukan sebagai ketakutan yang mencekam. Wayang, dalam hal ini, menjadi ruang refleksi yang menenangkan, tempat masyarakat diajak menata batin sebelum menata keadaan.

Secara garis besar, lakon ini berkisah tentang niat Ki Lurah Semar untuk meminjam Jamus Kalimasada demi kepentingan “mbangun kayangan”. Untuk itu, Petruk diutus menghadap Prabu Puntadewa. Pada saat yang sama, Pendeta Durna dan Patih Sangkuni hadir sebagai utusan Prabu Duryudana dengan maksud serupa: meminjam pusaka tersebut guna memulihkan dahuru yang menimpa Astinapura. Dua kepentingan besar, dua tujuan yang sama-sama diklaim sebagai kebutuhan bersama, bertemu di hadapan seorang raja yang menjunjung tinggi nilai kebenaran.

Baca Juga :   Imigrasi Tangkap Warga Negara Amerika Serikat Buronan US Marshals

Prabu Puntadewa pun berada dalam posisi ewuh aya ing pambudi. Kebimbangannya bukanlah tanda kelemahan, melainkan cerminan tanggung jawab moral seorang pemimpin. Ia menyadari bahwa Jamus Kalimasada bukan sekadar pusaka sakti, melainkan simbol kebenaran, legitimasi, dan amanah. Kesalahan dalam mengambil keputusan bukan hanya berdampak politis, tetapi juga etis dan spiritual.

IMG 20251230 WA0126

Kehadiran Prabu Kresna menjadi penanda penting dalam lakon ini. Ia tidak serta-merta memberikan jawaban, melainkan menempuh jalan musyawarah dan laku spiritual dengan menghadap Betara Guru di Kahyangan Jonggring Saloka. Sikap ini menegaskan bahwa kebijaksanaan sejati lahir dari perpaduan antara kecerdasan rasional dan kejernihan batin. Kekuasaan yang besar menuntut kesediaan untuk tunduk pada nilai yang lebih tinggi.

Syarat “Kembang Turangga Jati” yang diajukan Puntadewa mengandung makna filosofis yang dalam. Ia bukan sekadar ujian fisik atau kecakapan, melainkan simbol laku batin. Kembang itu melambangkan ketulusan niat, kemurnian tujuan, dan keselarasan antara kehendak dan tindakan. Siapa pun yang ingin membawa Jamus Kalimasada harus terlebih dahulu membuktikan kelayakan moralnya, bukan hanya kecakapan atau ambisi kekuasaannya.

Baca Juga :   Menjaga Nada, Merawat Ingatan: Jejak Pengabdian Hengki Herwanto

Pada akhirnya, lakon ini menegaskan bahwa kebenaran tidak dapat dipisahkan dari keluhuran budi. Kekuasaan tanpa kebijaksanaan akan kehilangan arah, sementara niat baik tanpa laku yang benar akan kehilangan makna. Dalam pandangan kejawen, membangun dunia harus selalu diawali dengan membangun diri.

Barangkali inilah sebabnya lakon ini terus hidup dan relevan. Ia tidak sibuk mempertontonkan kemenangan atau kekalahan, tetapi mengajak penontonnya merenung: sejauh mana kita telah menata batin sebelum menuntut perubahan di luar diri. Wayang, dengan segala kesederhanaan dan kedalamannya, kembali menegaskan fungsinya sebagai lelangen wardaya makanan jiwa yang menyejukkan sekaligus mencerahkan.

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Royalti Musik dan Keadilan Pencipta: Harapan Baru di Era Tata Kelola LMKN

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID — Tata kelola royalti dalam industri musik tidak semata berbicara...

GSW Pantura Jadi Proyek Strategis Nasional, Pemerintah Siapkan Otorita Khusus

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID— Proyek Giant Sea Wall (GSW) di kawasan Pantai Utara (Pantura)...

Polemik LMKN Kembali Mengemuka, LMK Klaim Sistem Royalti Rugikan Pencipta Lagu

JAKARTA,TERMINALNEWS ID— Polemik yang menyeret nama Lembaga Manajemen Kolektif Nasional kembali...

Arca “Mbah Bhelet” Dipindahkan, Fadli Zon Tekankan Penguatan Nilai Budaya Borobudur

MAGELANG,TERMINALNEWS.ID — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menghadiri Ritual Ageng Boyongan Mbah...

- A word from our sponsors -

spot_img