BerandaDaerahSastra Harijanto Tjondrokusumo Mantan...

Sastra Harijanto Tjondrokusumo Mantan Ketua DPD PAPPRI Jatim Kritik UU Royalti: “Jangan Matikan Musik Daerah”

SURABAYA,TERMINALNEWS.ID — Musik adalah denyut nadi kehidupan bagi para seniman. Namun, bagi Sastra Harijanto Tjondrokusumo, seniman sekaligus mantan Ketua DPD Persatuan Artis Penyanyi Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) Jawa Timur, denyut itu kini terancam melemah akibat penerapan Undang-Undang Royalti.

Pria yang dikenal ngayomi musisi daerah ini menilai kebijakan tersebut justru menjadi beban baru, terutama bagi pekerja musik di tengah kondisi ekonomi yang belum pulih.

“Banyak kafe dan restoran memilih berhenti memutar musik, bahkan ada yang tutup. Dampaknya jelas—pengangguran bertambah dan kreativitas anak bangsa terganggu,” tegas Sastra dalam pertemuan bersama pelaku musik di Surabaya, Sabtu (9/8).

Figur Nasionalis yang Berjuang Lewat Nada

Baca Juga :   Masyarakat Kepulauan Nias Desak Kejaksaan Agung Republik Indonesia Bertindak Tegas Berantas Korupsi di Daerah

Sastra bukan sekadar musisi. Melalui Miracle Indonesia Satu Band, ia menciptakan lagu-lagu bertema persatuan seperti “Indonesia Satu” dan “NKRI Harga Mati”. Karyanya mengajak masyarakat untuk merobohkan sekat perbedaan demi membangun kebersamaan.

“Musik adalah media kuat untuk menyatukan bangsa. Jangan sampai semangat ini padam hanya karena kebijakan yang kurang bijak,” ujarnya.

Dari Panggung Musik ke Arena Olahraga Dunia

Selain di musik, Sastra pernah membawa harum nama Indonesia di kancah internasional melalui olahraga balap sepeda. Saat menjabat Sekretaris Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) Jawa Timur, ia menggagas ajang Tour de East Java (2004–2014) yang diikuti pebalap dunia dan melahirkan atlet-atlet berprestasi internasional.

Baca Juga :   Tears Don’t Lie rilis Single Kedua "Black & White" pada 28 Februari 2025

Ajakan Bersatu untuk Musik Indonesia

Dalam pertemuan tersebut, Sastra dan para pelaku musik sepakat mencari langkah strategis agar UU Royalti tidak menjadi penghalang kreativitas. Ia mengajak semua musisi di Surabaya untuk bersuara dan mendorong kebijakan yang lebih ramah bagi industri musik daerah.

“Royalti adalah hak, tapi penerapannya harus bijak. Jangan sampai aturan yang dimaksudkan untuk melindungi justru mematikan kehidupan musik itu sendiri,” pungkasnya.|Foto : Sastra Harijanto Tjondrokusumo

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Royalti Musik dan Keadilan Pencipta: Harapan Baru di Era Tata Kelola LMKN

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID — Tata kelola royalti dalam industri musik tidak semata berbicara...

GSW Pantura Jadi Proyek Strategis Nasional, Pemerintah Siapkan Otorita Khusus

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID— Proyek Giant Sea Wall (GSW) di kawasan Pantai Utara (Pantura)...

Polemik LMKN Kembali Mengemuka, LMK Klaim Sistem Royalti Rugikan Pencipta Lagu

JAKARTA,TERMINALNEWS ID— Polemik yang menyeret nama Lembaga Manajemen Kolektif Nasional kembali...

Arca “Mbah Bhelet” Dipindahkan, Fadli Zon Tekankan Penguatan Nilai Budaya Borobudur

MAGELANG,TERMINALNEWS.ID — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menghadiri Ritual Ageng Boyongan Mbah...

- A word from our sponsors -

spot_img