OLEH: NABIL M.SALIM
BAGI Guruh Soekarnoputra, jatuh cinta tidak butuh waktu lama. Cukup satu tatapan di sebuah panggung tari di negara paling tertutup di dunia. Di Pyongyang, April 2002, seniman 49 tahun itu melihat Sabina Eldar, penari 22 tahun dari Uzbekistan, dan seketika ia tahu: doa panjangnya untuk jodoh telah dijawab.
Pyongyang, April 2002, dingin.
Di balik gegap gempita The April Spring Friendship Art Festival, Guruh Soekarnoputra datang sebagai seniman. Ia datang bersama kelompoknya, GSP. Ia tidak mencari cinta.
Sampai ia melihat rombongan Uzbekistan menari.
Di antara barisan penari itu, ada Sabina. 22 tahun. Anggun.
“Saya langsung kesetrum. Dia cantik!” kata Guruh kemudian, jujur seperti seniman yang tidak bisa menyembunyikan kagumnya.
Sejak detik itu, Guruh melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan: mengejar. Di negeri orang, dengan bahasa yang terbatas, ia menempel terus pada Sabina. Bukan dengan gombal politikus, tapi dengan perhatian seorang koreografer yang tahu cara membaca gerak tubuh.
Sebelum bendera festival diturunkan, sebelum ia meninggalkan Korea Utara, ia memberanikan diri: menyatakan cinta.
Dan ajaibnya, Sabina menjawab ya.
Apa yang terjadi setelah itu adalah kisah LDR paling puitis sebelum ada WhatsApp. Jakarta-Tashkent disambung lewat telepon interlokal yang mahal. Suara yang putus-putus, tapi rindu yang utuh.

Guruh, si seniman serba akal, kemudian menggunakan panggung untuk cinta. Juni 2002, Pekan Raya Jakarta digelar. Ia mengundang kelompok tari Uzbekistan. Satu nama yang ia tunggu: Sabina.
Tuhan mengabulkan.
23 Juni 2002, di depan Presiden Megawati Soekarnoputri — kakaknya sendiri — Sabina menari dalam acara Favoritku Indonesia I. Di belakang panggung, Guruh menarik tangan Megawati.
“Kak, ini pacarku.”
Mega, yang terkenal irit bicara, hanya menjawab: “Ya, sudah cepat saja.”
Restu pertama didapat.
Malam berikutnya, di sebuah restoran di Jakarta, Guruh mempertemukan Sabina dengan Guntur dan Sukmawati. Keluarga Bung Karno menatap gadis Uzbek itu. Tidak ada penolakan. Yang ada hanya kehangatan keluarga besar yang sudah lama tidak melihat Guruh sebahagia itu.
Guruh pun nekat. Pertengahan September 2002, ia terbang ke Uzbekistan. Bukan sendiri. Ia membawa empat sahabatnya: Alex Hasyim, Abdul Kadir, Lina Sumardoyo, dan Ricky Burdani. Seperti membawa keluarga.
Rabu, 18 September 2002, ia bertemu ibu Sabina. Kamis, ia melamar. Keluarga Sabina terharu, lalu berkata: jangan lama-lama. Ibu Sabina menghitung hari baik.
Jatuh pada Jumat esoknya, setelah Salat Jumat.
Semua panik, semua bahagia. Guruh menelepon Guntur di Jakarta: “Kak, aku nikah besok.”
Jumat, 20 September 2002. Pukul 15.00, di kantor catatan sipil Tashkent, dengan bahasa Rusia, pernikahan dicatat. Saksi Ricky Burdani dan Nigora. Pukul 16.00, di Masjid Kucha, akad nikah dengan bahasa Uzbekistan.
“Mas Guruh mengucapkan ijabnya dengan lancar. Sepuluh menit selesai,” kenang Ricky.
Mas kawinnya adalah cerminan siapa Guruh: Al-Qur’an, buku Di Bawah Bendera Revolusi, dan buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
“Istri saya mau jadi WNI. Dia harus tahu sejarah Indonesia dan kenal mertuanya,” katanya.
Ia memberi nama baru untuk cintanya: Padmavati. Diambil dari nama ibunya, Fatmawati. Maka lahirlah nama panjang yang indah: Guseynova Sabina Padmavati Guruh Soekarno Putri.
Senin, 23 September 2002, adat Uzbek dijalankan: makan nasi kebuli jam 5 pagi untuk pria, jam 8 pagi untuk wanita. Pengantin tidak boleh ikut. Guruh menunggu di Hotel Intercontinental dengan senyum tak hilang.
Itulah Guruh. Ketika mencintai, ia mencintai dengan total — dengan buku, dengan doa, dengan nama ibunya.
Sayang, cinta seindah koreografi itu tak selamanya seirama. 2009, mereka berpisah. Sabina pulang ke negerinya.
Hari Sabtu, 26 September 2026, Guruh telah berpulang. Jika ada yang ditinggalkan selain karya, itu adalah pelajaran bahwa cinta, bagi seorang seniman, bisa datang di mana saja — bahkan di panggung dingin di Pyongyang — dan tetap akan terasa hangat selamanya.
EDITOR: Tommy R.Arief

