OLEH: Wan Soleman
Alhamdulillah… akhirnya torang baku dapa!
Kalimat itu menjadi pembuka dari sebuah pertemuan yang akan lama tersimpan di hati keluarga besar Tidore Mabarakat Jabodetabek. Setelah sekian lama hanya saling menyapa lewat layar telepon genggam dan sibuk dengan urusan masing-masing di tanah rantau, hari ini Ngofa se Dano asal Tidore akhirnya duduk bersama, saling menatap, maku jau gia, dan merasakan hangatnya persaudaraan.
Tepat pukul 10.45 WIB, acara Baku Dapa Tidore Mabarakat Jabodetabek dimulai di Bangi Coffee Pasar Minggu. Antusiasme basudara begitu terasa. Senyum, tawa, sapaan dalam bahasa Tidore memenuhi ruangan.
Hari ini, torang tidak sekadar berkumpul di Pasar Minggu. Hari ini, sebagian rasa rindu kepada Tidore menemukan tempat untuk pulang.
Dari Sambutan Hingga Ongo Lili Para Sesepuh
Acara dibuka oleh Ketua Panitia, dilanjutkan sambutan sesepuh Ko Ata Raimadoya yang mengangkat kembali sejarah penting Tidore pada masa awal kemerdekaan. Beliau mengisahkan pilihan politik Sultan Tidore ketika Van Mook menawarkan tiga opsi: Tidore berdiri sebagai negara sendiri, bergabung dengan Belanda, atau bergabung dengan Indonesia. Sultan Tidore memilih bergabung dengan Indonesia.
Kisah itu menjadi pengingat bahwa Tidore memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa.
Sambutan dilanjutkan oleh sesepuh Ko Hasan Basri Umar, Ko Haer, dan Ko Ade Adam Noh, ditutup dengan tausiah dan doa oleh Ustadz Dr. Guntur Alting.
Ada momen yang paling menyentuh. Ketika para sesepuh menyampaikan sambutan, suara mereka sempat terhenti dan mata mereka berlinang air mata. Bukan karena kehabisan kata, tapi karena begitu banyak rasa yang berkumpul dalam satu waktu. Rindu, kenangan, dan syukur karena masih diberi kesempatan untuk baku dapa.
Kadang-kadang, air mata adalah bahasa hati yang paling jujur.
Baku Kenal, Bacarita, Basedu
Setelah sambutan, acara dilanjutkan perkenalan dari masing-masing kampung asal di Tidore. Suasana semakin meriah. Ada yang kembali bertemu teman lama, ada yang baru tahu ternyata satu kampung, padahal selama ini hanya kenal di grup WhatsApp.
Hari ini, nama-nama di grup berubah menjadi wajah. Percakapan berubah menjadi jabat tangan.
Wadah Persaudaraan Yang Lebih Kuat
Hasil penting dari pertemuan ini adalah terpilihnya Ko Hasan Basri secara aklamasi sebagai Ketua Tidore Mabarakat, dengan Wan Soleman sebagai Sekretaris dan Muzna Ismail sebagai Bendahara.
Namun keberhasilan paguyuban tidak hanya ditentukan oleh ketua. Ketua tidak bisa berjalan sendiri. Keberhasilan ditentukan oleh kesediaan seluruh anggota untuk ikut menjaga dan menghidupkan kegiatan bersama.
Harapan besar muncul agar pertemuan seperti ini dijadwalkan berkala setiap tiga bulan.
Kuliner Tidore, Rasa Kampung Yang Kembali Hadir
Kemeriahan dilengkapi dengan sajian khas Tidore: nasi kuning, ikan masak kayu, ikan fufu, dabu-dabu kacang, dabu-dabu goreng, pisang santan rebus, batata rebus, lapis Tidore, apang polote, hingga roti toreba.
Setiap makanan bukan sekadar pengisi perut. Di dalamnya ada kenangan dan budaya yang dipertahankan. Terima kasih kepada mama-mama cantik yang telah menyiapkan dengan penuh cinta. Bagoro bagus dia pe nasi!
Rasa kampung halaman tidak selalu harus dicari dengan pulang ke Tidore. Kadang ia hadir melalui sepiring makanan khas dan orang-orang yang duduk bersama dengan hati penuh syukur.
Jangan Hanya Menyala di Awal
Terima kasih kepada seluruh basudara, sesepuh, donatur, panitia, dan mama-mama yang telah menyukseskan acara ini.
Mari jadikan pertemuan ini sebagai langkah awal. Mari rawat persaudaraan dengan nilai Adat Se Atorang, Loa Se Banari.
Jangan sampai semangat hari ini hanya menyala ketika acara berlangsung, lalu padam. Mari buktikan bahwa Tidore Mabarakat bukan hanya nama grup, melainkan komitmen untuk terus saling menjaga.
Baku Dapa, Baku Simore, Baku Jaga, Baku Sayang.
Ino Fo Matai Pasi, Moro-moro Fomaku Sogase.
TIDORE JANG FOLOI — NGOFA SE DANO, TORANG SAMUA BASUDARA!
Marimoi Ngone Futuru
Editor: Tommy R.Arief

