
Menurutnya, sistem pengamanan yang baik tidak hanya melindungi aset perusahaan, tetapi juga mendukung keberlangsungan operasional dan produktivitas bisnis secara berkelanjutan.
Sementara itu, Brigjen Pol Murry Miranda menyampaikan bahwa penerapan Sistem Manajemen Pengamanan bukan sekadar pemenuhan administrasi, melainkan bagian penting dari mitigasi risiko terhadap potensi gangguan keamanan di kawasan operasional perusahaan.
“Pengamanan objek vital nasional harus dilakukan secara profesional dan berstandar. Ini menjadi kebutuhan penting agar operasional perusahaan tetap aman dan kondusif,” ujarnya.
Pada sesi materi inti, peserta mendapatkan pembekalan teknis terkait standar pengamanan nasional. Kombes Pol Edy Sumardi menjelaskan prosedur penerapan jasa Sistem Manajemen Pengamanan, sedangkan Auditor Profesional Budi Purwoto, S.E., memaparkan implementasi lima elemen dan 118 kriteria SMP yang menjadi acuan nasional.
Kombes Pol Edy Sumardi menekankan bahwa seluruh unsur di PT Timah harus memiliki pemahaman yang sama terkait sistem keamanan perusahaan.

“Kami ingin seluruh elemen memahami prosedur keamanan secara menyeluruh. Dengan penerapan lima elemen dan 118 kriteria SMP, perusahaan dapat memiliki sistem pertahanan yang lebih modern, terukur, dan efektif,” katanya.
Kegiatan ini juga ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama antara Baharkam Polri dan manajemen PT Timah sebagai bentuk keseriusan dalam menerapkan Sistem Manajemen Pengamanan secara konsisten dan berkelanjutan.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif hingga sore hari. Para peserta tampak aktif mengikuti sesi diskusi dan tanya jawab yang dipandu Auditor Profesional Ir. Mohammad Zari, M.M.

Melalui kegiatan pra-audit ini, PT Timah diharapkan mampu memenuhi standar pengamanan Objek Vital Nasional yang ditetapkan Polri, sekaligus memperkuat sistem keamanan perusahaan di seluruh wilayah operasionalnya. (INO)


