JAKARTA,TERMINALNEWS.ID— Program Pertapreneur Aggregator (PAG) yang diinisiasi PT Pertamina (Persero) mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk bertransformasi, tidak hanya mengejar pertumbuhan omzet, tetapi juga membangun fondasi organisasi yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Perubahan tersebut dirasakan Harumi Kartini, pendiri Harumi Fashion asal Jakarta, yang masuk dalam 10 besar peserta Program Pertapreneur Aggregator 2025. Melalui program pendampingan berkelanjutan ini, Harumi mengaku mengalami pergeseran cara berpikir dalam mengelola bisnis.
“Dulu hampir semua hal bergantung pada saya. Sekarang saya sadar, bisnis agar bisa berkembang tidak boleh bergantung pada satu orang,” ujar Harumi,dalam siaran pers PT Pertamina,Jumat(9/1)
Harumi mengawali usahanya di bidang jasa desain, mulai dari kemasan produk, branding visual, materi promosi digital, hingga strategi visual storytelling. Ia banyak bekerja sama dengan pelaku UMKM lain yang memiliki produk berkualitas, tetapi belum mampu bersaing karena tampilan visual yang kurang menarik.
Seiring waktu, Harumi mengembangkan lini usaha desain fashion, khususnya untuk produk busana muslim seperti baju, mukena, dan jilbab. Produk dengan identitas visual yang kuat tersebut kini diminati UMKM yang ingin memiliki ciri khas dan diferensiasi di pasar.
Menurut Harumi, desain dan kemasan menjadi aspek penting dalam membangun daya tarik produk. “Banyak UMKM punya produk bagus, tetapi visualnya kurang mendukung. Padahal, kemasan dan desain sangat menentukan ketertarikan konsumen,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterlibatannya dalam Program Pertapreneur Aggregator menjadi momentum penting untuk keluar dari pola usaha yang berpusat pada pemilik (founder-centric). Melalui pendampingan yang diberikan, Harumi mulai membangun sistem kerja, pembagian peran, serta kepemimpinan berbasis tim.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan bahwa penguatan UMKM melalui fondasi organisasi yang sehat sejalan dengan Asta Cita Poin 3, yakni penguatan ekonomi rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan.
“UMKM perlu dipersiapkan agar mampu tumbuh sebagai organisasi yang tangguh. Dengan sistem yang kuat, UMKM tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja dan membangun ekosistem usaha yang berdaya saing,” kata Baron.
Perubahan tersebut kini mulai terlihat dalam operasional Harumi Fashion. Standarisasi kerja, pembagian tugas, serta mekanisme pengambilan keputusan yang sebelumnya terpusat pada pemilik, kini dijalankan melalui sistem. Untuk pertama kalinya, Harumi Fashion bahkan menyelenggarakan rapat tahunan (annual meeting) sebagai sebuah organisasi.
“Saat ini saya tidak lagi memegang semua peran. Fokus saya memastikan sistem berjalan dan tim memahami arah bisnis,” ujar Harumi. Ia menyebut, perannya kini lebih strategis sebagai CEO dibandingkan terlibat langsung dalam operasional harian.
Transformasi tersebut juga memengaruhi cara Harumi mengambil keputusan bisnis. Ia menjadi lebih selektif dan berani menolak peluang yang tidak sejalan dengan strategi jangka panjang perusahaan.
“Bukan karena tidak ingin tumbuh, tetapi karena kami sudah memahami mana yang relevan dan mana yang justru menjadi distraksi,” katanya.
Melalui Program Pertapreneur Aggregator, Pertamina menargetkan lahirnya UMKM yang tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga matang secara organisasi. Dengan sistem dan kepemimpinan yang kuat, UMKM diharapkan mampu bertahan dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.


