JAKARTA, TERMINALNEWS.ID — Setelah hampir satu dekade vakum, Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) DKI Jakarta kembali digelar pada 4–8 Agustus 2025.
Ajang yang terakhir kali diadakan pada 2015 ini kini hadir kembali sebagai bagian dari upaya pembinaan dan seleksi atlet muda berbakat di wilayah ibu kota.
Ketua KONI DKI Jakarta, Dr. Hidayat Humaid, M.Pd., mengatakan bahwa pelaksanaan Porprov kali ini menjadi momentum penting untuk kembali menata pembinaan atlet dari tingkat akar rumput.
Ia menegaskan, Porprov tak hanya menjadi ajang kompetisi, melainkan juga sarana untuk mengidentifikasi potensi atlet usia muda yang berpeluang melangkah ke tingkat regional, nasional, bahkan internasional.
“Porprov ini kita hidupkan kembali sebagai sarana seleksi atlet, salah satunya untuk persiapan menghadapi Popnas (Pekan Olahraga Pelajar Nasional) 2025. Harapan kami, ke depan Porprov akan digelar rutin setiap empat tahun dengan jumlah cabang olahraga yang lebih banyak,” ujarnya saat acara penutupan di GOR Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (8/8/2025).

Pada edisi tahun ini, sebanyak lima cabang olahraga dipertandingkan, yakni karate, taekwondo, pencak silat, tenis meja, dan panahan.
Total 408 atlet dari enam kontingen wilayah DKI Jakarta ikut ambil bagian: Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Kepulauan Seribu.
Menurut Ketua Panitia Besar (PB) Porprov 2025, Andri Paranoan, meskipun hanya lima cabang olahraga yang dipertandingkan, kompetisi berlangsung sangat kompetitif.
Dari hasil perolehan medali, kontingen Jakarta Timur tampil sebagai juara umum dengan raihan 32 emas, 18 perak, dan 23 perunggu.
Jakarta Pusat menempati posisi kedua, disusul Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Kepulauan Seribu.
“Porprov kali ini berjalan sangat baik dan menjadi indikator awal yang positif bagi pembinaan atlet di DKI Jakarta. Event ini juga dilaksanakan bersamaan dengan Popprov sebagai bagian dari seleksi menuju Popnas 2025,” kata Andri.
Lebih lanjut, Dr. Hidayat Humaid menilai bahwa banyak atlet muda yang menunjukkan potensi luar biasa, salah satunya dari cabang taekwondo.
Ia melihat postur tubuh dan teknik dasar yang dimiliki para atlet usia muda menunjukkan kualitas yang layak untuk terus dibina secara berjenjang.
“Dari pengamatan saya, banyak atlet muda yang secara fisik dan kemampuan sangat menjanjikan. Mereka inilah aset yang sebelumnya mungkin luput dari pantauan, dan melalui Porprov kita bisa menjangkau hingga ke tingkat kelurahan dan kecamatan,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa seluruh atlet tetap harus melalui proses seleksi lanjutan untuk bisa masuk ke pemusatan latihan daerah (Pelatda) maupun mewakili Jakarta ke tingkat nasional atau internasional.
“Olahraga itu sangat terukur. Atlet yang berprestasi dan kompetitif bisa naik peringkat kapan saja jika mampu menyingkirkan atlet di Pelatda melalui seleksi. Tidak ada jaminan otomatis, semua harus bersaing secara fair,” tegasnya.
Sebagai bentuk kolaborasi dan sinergi antara KONI DKI Jakarta dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pemuda dan Olahraga, Porprov kali ini digelar bersamaan dengan Popprov 2025.
Dua ajang ini menjadi bagian dari strategi besar untuk menyusun kekuatan kontingen DKI Jakarta menuju Popnas 2025.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, dalam sambutannya saat pembukaan Porprov 2025, Senin (4/8) menyampaikan target besar bagi kontingen DKI, yakni menjadi juara umum di ajang Popnas.
Oleh karena itu, persiapan matang melalui Porprov dan Popprov dinilai menjadi langkah strategis untuk mencapai target tersebut.
Ketua PB Porprov Andri Paranoan juga mengapresiasi keterlibatan aktif semua pihak dalam penyelenggaraan event ini.
“Kolaborasi yang baik antara KONI, pemerintah, dan pengurus cabang olahraga menjadi kunci sukses Porprov kali ini. Ke depan, ajang ini diharapkan bisa melibatkan lebih banyak cabang olahraga dan menjangkau lebih luas potensi atlet Jakarta,” ujarnya.
Dengan keberhasilan penyelenggaraan Porprov DKI 2025 dan banyaknya atlet muda potensial yang terdeteksi, DKI Jakarta kini menatap Popnas dengan optimisme tinggi.
Pembinaan berjenjang dan seleksi yang ketat menjadi modal utama dalam membentuk kontingen tangguh yang mampu mengharumkan nama daerah di level nasional, bahkan internasional.

