BEKASI, TERMINALNEWS.ID – Indonesia terus menunjukkan komitmennya dalam membantu Palestina melalui program kemanusiaan yang tak hanya berfokus pada bantuan, namun juga memberdayakan petani lokal. Salah satu inisiatif terbaru adalah “Program 1000 Ton Ubi”, yang diharapkan tidak hanya membawa manfaat besar bagi masyarakat Palestina, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan petani di Indonesia.
KH. MZ. Fadzlan Rabbany Garamatan, Presiden Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN), menegaskan bahwa program ini merupakan wujud kepedulian Indonesia terhadap Palestina, yang saat ini masih mengalami penjajahan dan krisis kemanusiaan. Dalam acara “Mukkayyam dan Hadis” yang digelar di Pondok Pesantren Nuur Waar, Bekasi, pada Jumat (13/09/2024), beliau mengutip Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang menekankan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

“Di tanah Palestina, kita menyaksikan ironi sejarah. Di saat manusia telah menjelajahi angkasa, saudara-saudara kita masih terkungkung, kehilangan hak-hak dasarnya. Program ini adalah langkah nyata dari bangsa Indonesia untuk membantu mereka,” ujar KH. Fadzlan.
Program 1000 Ton Ubi: Solusi Bagi Petani dan Palestina
Program pengiriman 1000 ton ubi ke Palestina ini tak hanya membantu rakyat Palestina, tetapi juga memberikan manfaat bagi petani Indonesia. KH. Fadzlan menjelaskan bahwa ubi adalah tanaman yang cepat panen, hanya memerlukan waktu tiga bulan, dan bisa ditanam di lahan kecil.
“Menanam ubi hanya memerlukan lahan 10 meter persegi, dan ini bisa menjadi solusi yang cepat dan efektif untuk meningkatkan produktivitas pertanian di pedesaan Indonesia,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa program ini hanyalah awal dari rencana yang lebih besar. Target pengiriman 10 ribu ton umbi-umbian ke Palestina akan terus dikembangkan, dengan harapan program ini dapat meningkatkan potensi pangan di Indonesia, sekaligus membantu masyarakat Palestina yang terdampak krisis.
“Setiap doa, setiap rupiah yang kita sumbangkan, adalah langkah menuju dunia yang lebih baik, dunia di mana tidak ada lagi anak-anak yang tidur dengan perut kosong atau ibu yang menangisi anak-anak mereka akibat perang,” lanjutnya.
Pengiriman Melalui Tanjung Priok
Menurut KH. Fadzlan, pengiriman tahap pertama direncanakan pada Maret 2025, sebelum memasuki bulan Ramadhan. Ubi akan dikirim melalui Pelabuhan Tanjung Priok dan diperkirakan memerlukan waktu 11 hingga 12 hari untuk sampai di Palestina. Proses penanaman ubi telah dimulai di daerah Kuningan dan Cirebon, Jawa Barat, dengan panen yang dijadwalkan tiga bulan dari sekarang.
Program ini juga memberikan dampak langsung bagi para petani yang tergabung dalam Relawan Pangan Indonesia-Palestina, seperti yang telah dilakukan di Desa Cintabodas, Tasikmalaya, dengan pembukaan lahan seluas 50 hektar untuk penanaman ubi jalar secara massal. Sekitar 100 petani relawan terlibat dalam tahap awal program ini, dan jumlahnya akan ditingkatkan menjadi 300 petani untuk memenuhi target pengiriman 1000 ton ubi.
Dukungan Dari Berbagai Pihak
Presiden Global Moeslim Charity (GMC), Ahyudin, turut memberikan pandangannya mengenai program ini. Ia menyebut bahwa program 1000 ton ubi merupakan bentuk diplomasi kemanusiaan yang luar biasa. “Selain memberdayakan petani Indonesia, program ini juga memberikan manfaat besar bagi masyarakat Palestina yang terbiasa mengonsumsi umbi-umbian,” ungkapnya.
Ahyudin berharap agar Tentara Nasional Indonesia (TNI) dapat mendukung program ini dengan meminjamkan kapal untuk pengiriman, guna menekan biaya operasional. “Sebagai bangsa yang terdepan dalam urusan bantuan kemanusiaan, saya berharap TNI bisa meminjamkan kapal perangnya untuk pengiriman bantuan ini,” tutupnya.
Dengan terlaksananya program ini, Indonesia bukan hanya menunjukkan solidaritas, tetapi juga menjalankan amanat konstitusi untuk membantu sesama, terutama mereka yang sedang berjuang untuk meraih kebebasan.

