JAKARTA,TERMINALNEWS.ID — Pariwisata Indonesia tengah berada pada persimpangan penting. Setelah terpukul pandemi dan perlahan bangkit, sektor ini kini dituntut tidak hanya mengejar jumlah kunjungan, tetapi juga memastikan keberlanjutan serta pemerataan manfaat. Gambaran itu mengemuka dalam paparan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana di hadapan Harvard Indonesian Student Association (HISA), Selasa (20/1), di Jakarta.
Dalam forum bertajuk Beyond Destinations Reimagining Indonesia’s Tourism Future, Widiyanti menekankan bahwa pariwisata Indonesia tak bisa lagi dibaca semata sebagai kumpulan destinasi unggulan. Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, kekuatan Indonesia justru terletak pada ekosistem pariwisata yang menyatu dengan bentang alam, keragaman budaya, dan kehidupan masyarakat lokal.
Data menunjukkan fondasi itu cukup kuat. Indonesia memiliki lebih dari 6.100 desa wisata, lima di antaranya diakui sebagai desa wisata terbaik dunia oleh UN Tourism. Selain itu, terdapat 12 UNESCO Global Geopark, 10 situs warisan dunia, dan 16 warisan budaya takbenda yang tercatat di UNESCO. Kekayaan ini, menurut Widiyanti, menjadi modal untuk membangun pariwisata yang tidak rapuh oleh perubahan tren.
Pemerintah kini memusatkan perhatian pada 13 destinasi utama 10 destinasi pariwisata prioritas dan tiga destinasi regeneratif dengan pendekatan berkelanjutan dan berbasis pemberdayaan masyarakat. Namun, pengembangan destinasi lain tetap dibuka melalui inisiatif pemerintah daerah dan pelaku industri, sebuah skema yang diharapkan mencegah ketimpangan pembangunan pariwisata.
Dari sisi kinerja, sektor pariwisata menunjukkan pemulihan yang relatif solid sepanjang 2025. Kunjungan wisatawan mancanegara pada periode Januari November mencapai 13,98 juta dan diproyeksikan melampaui 15 juta hingga akhir tahun. Peningkatan juga terlihat pada rata-rata belanja wisatawan yang mencapai 1.259 dollar AS, mendorong penerimaan devisa pariwisata hingga lebih dari 18 miliar dollar AS. Sektor ini sekaligus menjadi penopang lapangan kerja dengan serapan hampir 26 juta tenaga kerja.
Namun, capaian tersebut belum sepenuhnya menempatkan Indonesia di posisi teratas di kawasan. Dari sisi jumlah kunjungan, Indonesia masih berada di peringkat menengah ASEAN. Widiyanti menilai perbandingan kinerja antarnegara perlu dilakukan secara setara, termasuk dengan membedakan wisatawan yang benar-benar berkunjung dan pelancong lintas batas jangka pendek.
Ke depan, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Konektivitas antarpulau, harga tiket domestik, kebijakan visa, pengelolaan sampah di destinasi, hingga ketersediaan tenaga kerja pariwisata bersertifikat menjadi pekerjaan rumah yang terus dibenahi. Pemerintah mendorong penyesuaian regulasi, insentif transportasi, serta program peningkatan kapasitas sumber daya manusia pariwisata secara berkelanjutan.
Widiyanti menegaskan, arah pembangunan pariwisata ke depan tidak semata mengejar pertumbuhan. Pemerintah mengkurasi sejumlah program unggulan, termasuk penguatan desa wisata, paket wisata tematik, pengembangan event berskala internasional, serta pemanfaatan teknologi melalui konsep Tourism 5.0.
Pada akhirnya, pariwisata diharapkan tidak hanya menjadi mesin ekonomi, tetapi juga ruang perjumpaan antara keberlanjutan lingkungan, kesejahteraan masyarakat, dan identitas budaya. “Pariwisata harus menjadi kekuatan bersama,” kata Widiyanti, “yang memberi manfaat nyata sekaligus menjaga kebanggaan.[]

