OLEH: Tommy R. Arief
12 TAHUN LALU dunia menyaksikan Brasil hancur 1-7 dari Jerman di kandang sendiri. Senin malam (3/8), giliran Indonesia merasakan hal yang mirip di Pakansari. Dibantai Vietnam 0-3.
Bedanya skor, sama rasanya: mental runtuh karena 2 gol awal. Karena formasi salah. Karena kiper ragu. Karena pelatih telat bereaksi.
Ini bukan sekadar kalah. Ini “Mineirazo” versi Garuda.
Babak Pertama: Kuburan Digali di Menit 5 dan 14
Sama seperti Brasil yang dibantai 5 gol di 30 menit pertama oleh Jerman, Indonesia juga dikubur hidup-hidup oleh Vietnam di awal laga.
Menit 5: Nguyen Van Vi menjebol gawang Nadeo Argawinata lewat tembakan near post.
Menit 14: Nguyen Hai Long menambah lewat serangan balik kilat.
2-0. Pertandingan belum 15 menit, tapi mental Garuda sudah remuk di hadapan puluhan ribu suporter sendiri. Persis. Gol cepat itu meracuni segalanya.
Dosa Pertama: Trio Bek Tengah yang Bunuh Diri
Masalahnya bukan pemainnya, tapi racikannya.
Jordi Amat dipasang sebagai bek tengah. Tapi kecepatannya sudah tidak sanggup mengimbangi winger Vietnam. Duel badan kalah, duel udara kalah.
Sementara Rizky Ridho, bek yang paling paham cara melawan Vietnam, justru dibuang ke sisi kanan. Energinya terbuang.
Gol kedua adalah potret sempurna kekacauan itu. Saat Ridho naik menekan, ruang di belakangnya kosong. Seharusnya Jordi geser ke kanan untuk menutup. Tapi dia tetap terpaku di tengah. Salah posisi, lambat pula.
Andai dari awal komposisinya Walsh – Ridho – Patynama, mungkin tembok itu tidak akan jebol secepat itu.
Dosa Kedua: Kiper yang Ingin Gagah, Lupa Musuhnya Siapa
Nadeo ingin bermain modern. Scanning, build-up dari bawah, terlihat tenang.
Tapi dia lupa, ini bukan uji coba. Ini Vietnam.
Gol pertama lahir dari “keangkuhan” itu. Build-up pendek ke Ivar Jenner. Sekali press, Ivar panik, umpan melenceng. Direbut. Gol.
Ini mengulang trauma blunder saat lawan Kamboja. Kiper boleh jago kaki, tapi pertama-tama dia harus jadi pagar terakhir yang bikin lawan frustrasi. Malam ini Nadeo belum jadi itu.
Dosa Ketiga: Gelandang Beku dan Bangku Cadangan yang Diam
Ivar dan Marc Klok dimainkan 64 menit penuh. Padahal sejak menit 20 sudah jelas: tengah kita buntu. Tom Haye dikunci, sayap tidak bisa jalan.
Butuh suntikan. Butuh Beckham Putra atau Hanan untuk menusuk. Butuh Ragnar Oratmangoen ditarik ke tengah jadi second striker.
Yang terjadi? Pergantian telat. Yang masuk malah pemain dengan tipe sama. Hasilnya: serangan mati, pertahanan terus digempur sampai gol ketiga Nguyen Xuan Son di menit 71 menutup peti mati.
Epilog: Beruntung Hanya 3-0
Sejujurnya, skor bisa 0-5. Bisa 0-6. Vietnam sengaja mengerem karena kita sudah menyerah duluan.
Kekalahan ini bukan akhir dunia. Tapi ini tamparan keras. Sama seperti Jerman membangunkan Brasil, Vietnam baru saja membangunkan Indonesia.
Masih ada jalan. Kalahkan Singapura. Menang atas Thailand/Malaysia di semifinal. Lalu bertemu Vietnam lagi di final.
Karena jika itu terjadi, Pakansari malam tadi harus jadi pelajaran paling mahal.
Agar “Mineirazo” ini tidak terulang kedua kali.
Di final nanti, baru kita balas. Duel sesungguhnya.
*Tommy R.Arief, Jurnalis sepakbola senior


