JAKARTA,TERMINALNEWS.ID -| Di tengah laju modernitas Jakarta, ruang bagi tradisi ternyata belum kehilangan napasnya. Dinas Kebudayaan DKI Jakarta menjadwalkan pementasan Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 sebanyak 10 kali sepanjang 2026 di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Kemayoran, Jakarta Pusat sebuah upaya merawat warisan budaya di tengah kota metropolitan.
Hingga April 2026, dua pementasan telah digelar, termasuk lakon “Kembang Turangga Jati” yang mengangkat kisah pusaka sakral Karancang Bala simbol kekuasaan yang memantik ambisi dan konflik. Cerita ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga refleksi nilai-nilai klasik tentang hasrat, kekuasaan, dan moralitas.
Antusiasme publik pun menunjukkan geliat yang menggembirakan. Ratusan pendaftar memperebutkan kursi terbatas, dengan dominasi generasi muda yang menjadi penonton. Fenomena ini menegaskan bahwa seni pertunjukan tradisional masih memiliki daya hidup di tengah masyarakat urban.
Lebih dari sekadar tontonan, Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 menjadi ruang edukasi sekaligus pelestarian budaya. Ia menjaga ingatan kolektif, memperkuat identitas multikultural Jakarta, dan membuktikan bahwa tradisi tidak sekadar bertahan, tetapi juga terus menemukan relevansinya.**


