ACEH TAMIANG,TERMINALNEWS.ID – Kampung Sunting seolah terputus dari dunia luar setelah banjir besar menyapu wilayah Aceh Tamiang. Akses jalan yang sebelumnya dapat dilalui kendaraan kini berubah menjadi jalur berlumpur dan licin. Untuk mencapai kampung tersebut, perjalanan harus ditempuh hingga berjam-jam, dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri medan berat yang menguji ketahanan fisik.
Di tengah keterisolasian itu, nama Zulkarnain menjadi simbol keteguhan warga Kampung Sunting. Pemuda berusia 37 tahun dengan keterbatasan fisik tersebut terekam kamera sedang memilah sisa-sisa rumahnya yang hancur diterjang banjir. Video singkat itu beredar luas di media sosial dan mengetuk nurani banyak orang.
Salah satunya adalah tim Relawan Pertamina Peduli yang saat itu bertugas di Posko Aceh Tamiang. Meski Kampung Sunting terlihat dekat di peta digital, kenyataan di lapangan berkata lain. Dibutuhkan perjuangan ekstra bagi tim yang terdiri dari relawan pekerja serta tenaga medis untuk mencapai kampung yang belum tersentuh bantuan memadai itu.
Sesampainya di lokasi, relawan mendapati kondisi warga yang memprihatinkan. Banyak di antara mereka belum mendapatkan layanan kesehatan sejak bencana terjadi. Pakaian yang dikenakan masih sama seperti saat banjir melanda, sementara keluhan kesehatan mulai bermunculan, terutama dari kelompok rentan.
“Kondisinya cukup darurat. Kami menemukan lansia dengan gangguan pernapasan, ibu hamil, dan warga yang membutuhkan penanganan segera,” ungkap dr. Haryati Victoria, dokter relawan dari RS Pertamina Prabumulih.
Salah satu pasien, Ishak (76), harus segera dirujuk setelah mengalami gejala serius yang mengarah pada gangguan jantung dan paru-paru. Dengan keterbatasan sarana, evakuasi dilakukan secara manual menggunakan sepeda motor menuju titik ambulans terdekat sebelum dibawa ke RSUD Langsa.
Tak hanya layanan medis, relawan juga membawa bantuan bahan pangan, makanan siap saji, serta menggelar kegiatan pemulihan trauma bagi anak-anak. Tawa kecil anak-anak Kampung Sunting perlahan kembali terdengar melalui permainan sederhana dan pembagian susu, menjadi jeda sejenak dari pengalaman bencana yang membekas.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menegaskan bahwa komitmen Pertamina tidak berhenti pada wilayah yang mudah dijangkau. Menurutnya, keberadaan relawan di daerah terisolasi adalah wujud nyata kepedulian perusahaan terhadap masyarakat terdampak bencana.
“Medan berat bukan alasan untuk berhenti. Kami ingin memastikan bantuan dan layanan kesehatan sampai kepada mereka yang paling membutuhkan,” ujarnya.
Melalui Pertamina Peduli, perusahaan terus mendorong peran aktif dalam aksi kemanusiaan yang selaras dengan prinsip keberlanjutan dan tanggung jawab sosial. Di Kampung Sunting, langkah-langkah kecil para relawan menjadi arti besar: menghadirkan harapan di tengah lumpur dan keterbatasan.[]Sumber PT Pertamina


