TERMINALNEWS.ID – Malaysia ternyata menyimpan jejak peradaban kuno yang jauh lebih tua daripada yang selama ini dikenal luas. Berbagai temuan arkeologi, mulai dari kompleks candi Hindu-Buddha, pusat industri besi kuno, gua dengan peti mati berbentuk perahu, hingga ratusan lukisan prasejarah, menunjukkan bahwa wilayah ini telah menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan penting di Asia Tenggara sejak ribuan tahun lalu.
Salah satu situs paling bersejarah adalah Lembah Bujang di negara bagian Kedah, yang berada di pesisir barat laut Malaysia. Di kawasan yang kini dikelilingi perkebunan kelapa sawit itu, terdapat lebih dari 50 candi Hindu-Buddha yang diperkirakan dibangun antara abad ke-4 hingga abad ke-13.
Penemuan prasasti berbahasa Sanskerta dan aksara Brahmi menjadi bukti kuat bahwa kawasan tersebut telah menjalin hubungan dagang langsung dengan India kuno jauh sebelum Islam berkembang di Nusantara. Para arkeolog juga meyakini masih banyak bagian kompleks candi yang belum diekskavasi.
Namun, kelestarian situs ini sempat menjadi sorotan. Pada 2013, salah satu candi di Lembah Bujang dilaporkan diratakan alat berat untuk pembangunan kawasan perumahan sebelum sempat diteliti secara menyeluruh. Peristiwa itu memicu kekhawatiran akan hilangnya peninggalan sejarah akibat pesatnya pembangunan modern.

Tak jauh dari Lembah Bujang, situs Sungai Batu mengungkap fakta lain yang tak kalah menarik. Para arkeolog menemukan tungku peleburan besi kuno serta sejumlah struktur buatan manusia yang diperkirakan termasuk bangunan tertua di Asia Tenggara.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kawasan ini bukan hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga berperan sebagai pusat industri dan perdagangan besi yang memasok berbagai wilayah di kawasan.
Penelitian juga mengungkap bahwa sejumlah candi utama di Lembah Bujang sengaja dibangun menghadap Gunung Jerai, yang sejak dahulu menjadi penanda penting bagi para pelaut. Penemuan keramik dari China dan manik-manik kaca asal Timur Tengah semakin memperkuat bukti bahwa kawasan ini telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan internasional sejak berabad-abad silam.
Jejak sejarah kuno Malaysia juga ditemukan di Gua Niah, Sarawak, di Pulau Kalimantan. Di dalam ruang yang dikenal sebagai Painted Cave, para peneliti menemukan peti mati kayu berbentuk perahu yang diletakkan di atas rak-rak batu alami.
Bentuk peti mati tersebut diyakini melambangkan perjalanan arwah menuju alam baka. Di bagian atasnya terdapat lukisan berwarna merah yang menggambarkan sosok manusia, hewan, dan perahu dengan pola yang hingga kini belum berhasil diartikan sepenuhnya. Meski terus terpapar kondisi alami gua, lukisan tersebut diperkirakan telah bertahan selama lebih dari seribu tahun.
Sementara itu, Gua Tambun di negara bagian Perak menyimpan salah satu koleksi lukisan prasejarah terbesar di Malaysia. Situs yang pertama kali didokumentasikan pada 1959 itu awalnya diperkirakan hanya memiliki puluhan gambar.
Namun, penggunaan teknologi pencitraan digital modern pada dekade 2010-an berhasil mengungkap lebih dari 600 gambar yang sebelumnya tidak terlihat oleh mata telanjang. Sebagian besar berupa pola geometris dan simbol abstrak yang hingga kini masih menjadi misteri. Para peneliti memperkirakan usia lukisan tersebut berkisar antara 2.000 hingga 12.000 tahun.
Misteri lain juga ditemukan di Negeri Sembilan melalui lebih dari 300 situs megalit yang dikenal masyarakat sebagai Batu Hidup. Batu-batu granit setinggi dua hingga delapan kaki itu semula diyakini sebagai penanda makam kuno.
Namun, penggalian arkeologi tidak menemukan kerangka manusia maupun benda pemakaman di sejumlah lokasi. Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa megalit tersebut memiliki fungsi lain yang hingga kini belum diketahui.
Fenomena “batu hidup” diduga terjadi akibat proses alam. Erosi tanah selama ratusan tahun membuat bagian batu yang semula tertanam perlahan muncul ke permukaan sehingga tampak semakin tinggi. Kandungan silika pada granit juga membuat batu memantulkan cahaya bulan, sehingga melahirkan berbagai legenda di masyarakat.
Di situs Pengkalan Kempas, para peneliti menemukan tiga megalit unik yang dijuluki “pedang”, “kemudi”, dan “sendok”. Batu-batu tersebut dihiasi ukiran makhluk mitologi, sementara salah satunya memiliki tulisan “Allah” dalam aksara Jawi yang dipahat berabad-abad setelah batu itu pertama kali didirikan. Temuan ini menunjukkan adanya lapisan sejarah dan perkembangan kepercayaan yang berlangsung dari masa ke masa.
Beragam penemuan tersebut memperlihatkan bahwa Malaysia memiliki warisan arkeologi yang sangat kaya dan masih menyimpan banyak misteri yang belum terpecahkan. Para peneliti meyakini masih banyak situs kuno yang belum terungkap, sehingga penelitian dan upaya pelestarian menjadi kunci untuk memahami sejarah panjang peradaban di Asia Tenggara.


