JAKARTA,TERMINALNEWS.ID -| Rasa syukur atas kelimpahan hidup kerap menemukan jalannya masing-masing. Ada yang mengekspresikannya melalui doa, ada pula yang mewujudkannya dalam kerja dan pengabdian. Namun, tidak banyak orang yang memilih mengikrarkan rasa syukur itu dengan mendedikasikan hidup untuk merawat mereka yang terpinggirkan mereka yang kerap luput dari perhatian.
Di antara sedikit orang itu adalah para pengasuh orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), yang bekerja bukan semata dengan keterampilan, melainkan dengan kesabaran panjang dan ketulusan yang nyaris tak bersuara.
Yayasan Al Fajar Berseri, yang berdiri di Tambun, Bekasi, menjadi salah satu ruang pengabdian tersebut. Di atas lahan sekitar dua hektare, lebih dari 800 ODGJ dan lansia terlantar menjalani hari-hari mereka. Angka itu besar, tetapi di baliknya tersimpan kisah-kisah kecil tentang keberanian dan kemanusiaan yang jarang tercatat.
Salah satu kisah itu datang dari seorang perempuan paruh baya yang akrab disapa M.
Di rumah sederhananya di kawasan Jakarta Selatan, M merawat sedikitnya 15 ODGJ dengan kondisi kejiwaan berat. Mereka hidup bersama dalam keseharian yang sederhana: makan bersama, beraktivitas bersama, dan menjalani rutinitas yang bagi banyak orang tampak sepele, tetapi bagi mereka merupakan pencapaian. Dengan tangannya sendiri, M memandikan satu per satu mereka setiap hari.

Merawat ODGJ bukanlah laku yang bebas dari risiko. Pernah suatu ketika, nyawa M berada di ambang bahaya. Seorang ODGJ yang tengah kambuh menggenggam gunting di satu tangan dan pisau di tangan lainnya. Situasi mencekam itu nyaris berujung tragedi. Namun, tanpa teriakan dan tanpa perlawanan, M memilih ketenangan. Dengan pendekatan yang lembut dan empatik, amarah perlahan surut. Peristiwa itu menjadi salah satu dari sekian banyak risiko yang hadir dalam keseharian para pengasuh.
Sebagian ODGJ yang dirawat M telah tinggal bersamanya selama bertahun-tahun. Ada yang lebih dari lima tahun, bahkan hingga belasan tahun. Merawat belasan orang dengan gangguan jiwa dalam jangka panjang bukan perkara ringan. Mengurus satu orang sehat saja membutuhkan kesabaran, terlebih mereka yang memerlukan pendampingan hampir dalam seluruh aspek kehidupan.
Perempuan asal Surabaya ini mengaku telah hidup berdampingan dengan ODGJ sejak awal pernikahannya. Kini, ia telah memiliki cucu. Ia tidak memiliki latar belakang pendidikan khusus di bidang kesehatan jiwa. Pengetahuannya tumbuh dari pengalaman dan ketekunan. Namun dari tangan dan hatinya, ratusan ODGJ perlahan pulih, kembali mengenali diri, dan diterima kembali oleh masyarakat.
Yayasan Al Fajar Berseri sendiri didirikan oleh H. Marsan. Para penghuninya datang dari berbagai latar belakang. Ada yang ditemukan terlantar di jalanan, ada pula yang dititipkan oleh keluarga maupun Dinas Sosial. Kendati memperoleh perhatian dari pemerintah, kebutuhan operasional yayasan kerap jauh melampaui bantuan yang diterima.
“Dalam sehari, kami menghabiskan sekitar satu kuintal beras. Sementara bantuan pemerintah hanya satu ton untuk setahun,” ujarnya,Kekurangan itu ditutup dengan dukungan masyarakat dan para donatur.
ODGJ yang dirawat M di rumahnya umumnya merupakan mereka yang sulit ditangani di lingkungan yayasan. Namun, kehadiran M kerap membawa ketenangan. Pasien yang dikenal agresif dapat berubah lebih tenang hanya dengan kehadirannya sebuah pengaruh yang lahir dari kepercayaan, bukan otoritas.
Dengan sabar, M membimbing mereka kembali menapaki kehidupan sehari-hari. Ia mengajarkan cara berpakaian rapi, menanamkan sopan santun, serta membiasakan interaksi sosial. Ketika tamu datang, para ODGJ satu per satu menyalami dan memperkenalkan diri sesuatu yang dahulu nyaris mustahil dibayangkan.
Musik menjadi salah satu jalan pemulihan. M mengajarkan mereka bernyanyi. Baginya, musik membuka ruang ekspresi yang selama ini tertutup. Pendekatan spiritual pun menyertai proses itu. Para ODGJ diajarkan membaca Al Quran, dari Iqra hingga surat-surat pendek. Lantunan ayat yang mereka baca kerap menghadirkan keheningan yang menggetarkan.
Bagi M, ODGJ adalah manusia seutuhnya bukan sekadar label atau diagnosis. Ia percaya, dengan kasih sayang dan ketekunan, pemulihan selalu memiliki peluang.
“Batu yang keras pun akan berlubang,” katanya pelan, “jika terus-menerus ditetesi air.”


