NAIROBI, TERMINALNEWS.ID – Duta Besar Iran untuk Kenya, Ali Gholampour, akhirnya angkat bicara terkait kemungkinan tim nasional sepak bola pria Iran memboikot Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Pernyataan tersebut muncul menyusul ofensif militer gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28 Februari). Situasi geopolitik yang memanas memunculkan kekhawatiran soal partisipasi Iran di ajang Piala Dunia FIFA 2026.
Setelah wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Hosseini Khamenei, Iran dilaporkan merespons dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah negara tetangga, termasuk Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Qatar, serta menargetkan pangkalan militer Inggris di Siprus.
Konflik yang terus berkembang berdampak langsung pada dunia olahraga. Kompetisi domestik Qatar, Qatar Stars League, resmi ditunda. Sementara itu, laga kriket one-day international antara England Lions melawan Pakistan Shaheens yang dijadwalkan berlangsung Minggu (1 Maret) dibatalkan karena alasan keamanan.
Situasi ini turut memicu spekulasi mengenai keikutsertaan Iran di Piala Dunia 2026.
Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, mengaku belum dapat memastikan apakah tim nasionalnya bisa tampil di turnamen musim panas mendatang.
“Yang pasti, setelah serangan ini, kami tidak bisa diharapkan menyambut Piala Dunia dengan penuh harapan,” ujar Mehdi Taj kepada Varzesh3.
Iran sebelumnya telah memastikan tiket ke putaran final dan tergabung di Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru.
Seluruh pertandingan fase grup Iran dijadwalkan berlangsung di Amerika Serikat, yakni dua laga di Inglewood, California, dan satu pertandingan di Seattle.
Dalam konferensi pers di Nairobi, Ali Gholampour mengakui konflik yang sedang berlangsung bisa membahayakan keikutsertaan tim nasional.
“Kami tidak tahu persis apa yang akan terjadi dan, jika situasi terus berlanjut, hal itu juga dapat membahayakan partisipasi tim nasional kami,” kata Gholampour.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump disebut mengindikasikan bahwa serangan terhadap Iran dapat berlanjut hingga empat pekan ke depan.
Berdasarkan regulasi FIFA yang dirilis pada 2025, jika ada asosiasi anggota yang mengundurkan diri atau dikeluarkan dari Piala Dunia 2026, FIFA memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan dan menunjuk pengganti.
Iran lolos otomatis ke turnamen tersebut, sementara Uni Emirat Arab gagal melaju setelah tersingkir di babak play-off. Sejumlah spekulasi menyebut UEA berpeluang menjadi pengganti Iran. Selain itu, Irak juga dapat dipertimbangkan apabila berhasil lolos dari play-off antarkonfederasi.
Regulasi FIFA juga menyebutkan bahwa badan sepak bola dunia itu memiliki hak untuk membatalkan, menjadwal ulang, atau memindahkan satu atau lebih pertandingan, bahkan keseluruhan turnamen, demi alasan force majeure maupun faktor kesehatan, keselamatan, dan keamanan.
Namun, dengan hanya tiga bulan tersisa sebelum turnamen dimulai, perubahan lokasi pertandingan berpotensi menimbulkan tantangan logistik besar bagi panitia penyelenggara. Selain itu, pemindahan laga juga dapat berdampak pada sponsor dan pemegang hak siar yang telah menyusun rencana komersial mereka.
Hingga kini, belum ada keputusan resmi dari FIFA terkait status Iran di Piala Dunia 2026. Dunia sepak bola pun masih menunggu perkembangan situasi politik yang terus berubah dengan cepat.


