BerandaEntertainmentKeberanian Hanung Bramantyo Mengangkat...

Keberanian Hanung Bramantyo Mengangkat cerita novel ‘Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur’ Ke Layar Lebar Mendapat Pujian Muhiddin

JAKARTA, TERMINALNEWS.ID – Penulis novel ‘Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur’, Muhiddin M. Dahlan, mengungkapkan ketakutannya setelah menulis kisah seorang Muslimah bernama Memoar.

Namun, di balik penulisan novelnya tersebut, ada sutradara yang berani mengangkat cerita kisah nyata ini ke layar lebar, yaitu Hanung Bramantyo. Yang dirubah menjadi Tuhan Izinkan Aku Berdosa.

“Tokohnya ada orang-orangnya gitu ya. Dan seperti di film ini, tokohnya juga enggak bisa diterima, ditolak di mana-mana. Jadi ini Memoar, tapi usia Memoar cuma tiga bulan, dipaksa oleh institusi. Tentu ini harus novel katanya supaya enggak ada orang tersinggung,” ungkap Muhiddin M. Dahlan.

Memoar itu sendiri usianya cuma tiga bulan, sebuah kisah nyata. Orang-orang yang membaca kemudian marah, sehingga statusnya berubah menjadi sastra.

Baca Juga :   Main-Main di Cipete Vol 32,Merayakan Keberagaman Musik Lokal di Casatopia Cafe

“Orangnya berubah statusnya menjadi sastra kelihatan orangnya, jadi diusahakan di apa di dirancukkan semuanya supaya gak ada yang tersinggung. Novel ini keluar 2003,” jelasnya.

Muhiddin juga menceritakan ketakutannya saat menulis novel tersebut, “Awalnya Kiran yang asli itu gembira ketika buku itu diterbitkan, tapi setelah dimaki secara nasional, ketakutannya minta ampun. Sampai sekarang saya gak pernah ketemu.”

Keberanian Hanung Bramantyo untuk mengangkat cerita ini ke layar lebar mendapat pujian dari Muhiddin.

“Saya hampir di Metro Jaya kalau gak salah tahun 2004, ada yang mengajukan itu sebagai penghinaan agama. Untungnya tidak terjadi apa-apa. Pada Januari 2021, ketika COVID-19 masih marak, saya bercerita bahwa saya tidak akan menyentuh sastra lagi.

Baca Juga :   “La Tahzan: Cinta, Dosa, Luka” Tuai Pujian Menteri Ekraf: Langkah Pasti Film Indonesia ke Panggung Dunia

Tapi Hanung berani mengambil risiko untuk mengangkat cerita ini ke film,” kata Muhiddin M. Dahlan.

Ia menambahkan, “Apalagi sekarang, bahkan musik pun itu dianggap haram oleh sebagian orang. Tetap akan jadi sensitif memang. Saya, sebagai orang yang mendalami sejarah selama 30 tahun, tahu betul bahwa undang-undang sejarah bisa memakan korban yang sangat banyak. Semoga saya tidak terkena masalah,” tutup Muhiddin.

Keberanian Hanung Bramantyo dalam mengangkat kisah kontroversial ini diharapkan dapat memberikan sudut pandang baru dan memperkaya khazanah perfilman Indonesia.

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Mitsubishi Fuso Perkuat Standarisasi Karoseri untuk Tingkatkan Kualitas & Keselamatan Kendaraan Niaga

TERMINALNEWS.ID, TANGERANG – PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), distributor...

11 Tahun Media Sudut Pandang, Konsisten Menjaga Integritas dan Kepercayaan Publik

TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – Memasuki usia ke-11 tahun, PT Majalah Sudut Pandang...

KI DKI Jakarta dan Dinas Kominfotik Sinergi Sukseskan Kick Off E Monev Keterbukaan Informasi Publik untuk 1001 Badan Publik

TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – Komisi Informasi (KI) Provinsi DKI Jakarta bersama Dinas...

Wali Kota Munjirin Ajak Warga Optimalkan Pekarangan untuk Dukung Ketahanan Pangan

TERMINALNEWS.ID, JAKARTA - Wali Kota Administrasi Jakarta Timur, Munjirin, bersama Ketua...

- A word from our sponsors -