Catatan Jelang 17 Agustus, Merujuk Puisi Taufik Ismail
OLEH: Nabil M.Salim
Agustus datang lagi.
Bendera merah putih sudah mulai dipasang di tiap gang.
Lomba panjat pinang, gerak jalan, upacara bendera.
Di medsos juga ramai. Semua berlomba teriak “MERDEKA!”
Tapi tahun ini, izinkan aku mengajak kita diam sejenak.
Diam. Dan berfikir.
Karena ada puisi Taufik Ismail yang dari dulu sampai sekarang masih menampar kita:
“Jika negeri ini masih dicekik ribuan triliun hutang…
Jika anak negeri masih jadi babu dan disiksa di negeri orang…
Jika kekayaan alam masih dikelola orang lain…
Jika kemiskinan masih meluas…
Jika anak bangsa masih amoral…
Jika korupsi masih jadi budaya…
Jika kita belum mandiri…
JANGAN TERIAK MERDEKA!
Lebih baik diam dan berfikir. Malu kita.”
Jika negara ini belum bisa menyediakan kerja layak di rumah sendiri…
Jika negara ini belum bisa memulangkan mereka dengan kepala tegak…
Lalu pantaskah kita teriak paling keras tanggal 17-an?
Tentang Tanah dan Isi Perut
Negeri katulistiwa. Kaya raya. Tapi garam impor. Singkong impor. Beras kadang impor.
Tanah jutaan hektar dikuasai asing. Rakyat pribumi berdesak-desakan di tanah sempit dan mahal.
Hasil bumi kita dinikmati korporasi. Rakyat cuma kebagian asap dan limbahnya.
Tentang Moral dan Kepercayaan
Narkoba merajalela. Judi online. Pornoaksi. Anak muda makin apatis.
Di atas, korupsi jadi budaya. Kolusi makin menganga. Uang rakyat raib entah ke mana.
Demokrasi kita dibajak oleh “keuangan yang maha kuasa”.
Malu kita.
Lalu Haruskah Kita Tidak Merayakan?
Bukan. Rayakan. Tapi rayakan dengan sadar.
Upacara boleh khidmat. Tapi setelah itu, mari kita kerja.
Merdeka itu bukan sekadar teriak.
Merdeka itu ketika tidak ada lagi ibu yang harus meninggalkan anak demi kerja di negeri orang.
Merdeka itu ketika petani kita tidak impor pupuk dan hasil panennya dihargai.
Merdeka itu ketika hukum sama untuk pejabat dan rakyat jelata.
Tahun ini, mari kita jadikan 17 Agustus sebagai pengingat.
Bukan pesta kelupaan.
Tapi janji: bahwa kita belum selesai. Dan kita malu kalau pura-pura selesai.
Dirgahayu Republik Indonesia.
Semoga kita segera pantas berteriak “Merdeka” tanpa rasa malu.
– Diadaptasi dan direnungkan dari puisi “Jangan Teriak Merdeka” karya Taufik Ismail
#MaluKita #17Agustus2026 #TaufikIsmail #DirgahayuRI
*Nabil M. Salim, sang patriotik


