TERMINALNEWS.ID, WASHINGTON – Alex Eala tengah menikmati musim terobosan dalam kariernya di WTA Tour. Petenis berusia 21 tahun asal Filipina itu tidak hanya mencatat prestasi gemilang, tetapi juga dinilai mampu memberikan dampak besar terhadap perkembangan tenis di negaranya dan dunia.
Eala baru saja meraih gelar WTA 500 pertamanya di Washington Open pada awal Agustus 2026. Dalam perjalanan menuju trofi tersebut, ia mengalahkan petenis peringkat tiga dunia, Jessica Pegula, pada partai final melalui pertarungan tiga set.
Kesuksesan itu membuat Eala mencatat sejarah sebagai petenis Filipina pertama yang memenangkan gelar tunggal di level WTA Tour.
Performa impresifnya sebenarnya sudah terlihat sejak Wimbledon. Eala berhasil melaju hingga babak keempat setelah secara mengejutkan mengalahkan juara bertahan, Iga Swiatek.
Setelah menutup musim 2025 sebagai petenis peringkat 53 dunia, Eala terus meningkatkan performanya pada tahun ini. Konsistensi tersebut membuatnya kini menembus 20 besar peringkat WTA.
Dukungan Luar Biasa dari Fans Filipina
Popularitas Eala juga terlihat jelas ketika dirinya tampil di Canadian Open awal bulan ini.
Pertandingan pembukanya melawan Alycia Parks pada sesi malam Rabu bahkan terjual habis hanya dalam hitungan jam setelah jadwal pertandingan diumumkan. Besarnya jumlah pendukung Eala asal Filipina juga membuat salah satu penjual makanan di arena Toronto mengubah salah satu menu mereka untuk memenuhi selera para suporter Filipina.

Eala kemudian melangkah hingga babak keempat sebelum dikalahkan Belinda Bencic.
Usai pertandingan, Bencic secara khusus memberikan apresiasi kepada penonton Filipina. Dalam wawancara setelah pertandingan, petenis Swiss tersebut menyampaikan bahwa dirinya merasa senang bisa bermain di hadapan dukungan penonton yang begitu besar.
Pujian terhadap Eala dan pengaruhnya terhadap tenis juga datang dari sejumlah bintang WTA, termasuk Naomi Osaka dan Coco Gauff.
Rennae Stubbs: Eala Bisa Bawa Banyak Anak Muda ke Tenis
Mantan petenis nomor satu dunia di nomor ganda, Rennae Stubbs, juga melihat sesuatu yang lebih besar dari sekadar prestasi Eala di lapangan.
Stubbs, yang berkarier profesional pada 1992 hingga 2011, menilai atmosfer yang tercipta setiap kali Eala bertanding menunjukkan betapa besar pengaruh petenis muda tersebut.
“Saya sangat menyukai antusiasme ini. Tidak ada yang lebih menarik daripada apa yang kita dapatkan setiap kali dia (Eala) memasuki lapangan,” ujar Stubbs dalam The Rennae Stubbs Tennis Podcast.
Stubbs juga mengungkapkan bahwa Caty McNally sempat memberikan komentar kepada Eala setelah pertandingan.
Menurut Stubbs, McNally mengucapkan terima kasih karena telah menjadi bagian dari atmosfer luar biasa yang tercipta dalam pertandingan Eala.
“Para petenis yang sudah lama berada di sini pun menyadari bahwa ini adalah atmosfer yang mungkin belum pernah mereka rasakan sebelumnya, kecuali mungkin saat Serena (Williams) bermain di New York untuk terakhir kalinya,” kata Stubbs.
Menurutnya, setiap lawan Eala harus memiliki kesiapan mental menghadapi dukungan luar biasa dari penonton.

“Alex Eala akan membawa begitu banyak anak muda ke olahraga tenis, dan itu hanya akan membuat olahraga ini semakin berkembang,” lanjut Stubbs.
Jadwal Padat Eala dan Harga Sebuah Kesuksesan
Di tengah meningkatnya popularitas dan performa Eala, muncul pula kekhawatiran mengenai padatnya jadwal pertandingan petenis berusia 21 tahun tersebut.
Eala dijadwalkan tampil di Cincinnati Masters. Pada pertandingan pertamanya, ia akan menghadapi petenis Rumania, Elena-Gabriela Ruse, pada Sabtu (15/8/2026).
Selain bermain di nomor tunggal, Eala juga mengikuti sejumlah turnamen ganda. Kondisi tersebut membuat sebagian penggemar khawatir dengan beban pertandingan yang harus dijalaninya.
Namun, padatnya kalender Eala tidak sepenuhnya bisa dihindari. Berdasarkan aturan WTA, pemain papan atas diwajibkan mengikuti seluruh turnamen WTA 1000 serta sejumlah turnamen WTA 500 dan Grand Slam dalam satu musim. Kegagalan memenuhi kewajiban tersebut dapat berdampak pada perolehan poin peringkat.
Petenis dengan peringkat tertinggi seperti Aryna Sabalenka dan Elena Rybakina memang memiliki ruang lebih besar untuk melewatkan beberapa turnamen tanpa memberikan dampak signifikan terhadap peringkat mereka. Namun, kondisi tersebut tidak berlaku bagi sebagian besar petenis di jajaran WTA.
Paman Eala, Noli Eala, sebelumnya juga menjelaskan situasi tersebut melalui media sosial. Ia mengatakan bahwa Alex harus menjalani jadwal padat sebagai konsekuensi statusnya sebagai pemain papan atas.
Menurut Noli, Eala harus mengikuti turnamen besar seperti Canadian Open dan Cincinnati, kemudian Beijing dan Wuhan Open, ditambah sejumlah turnamen WTA 500. Jadwal itu belum termasuk kewajibannya membela tim nasional Filipina.
“Dan ini bahkan belum memperhitungkan keinginannya untuk bermain bagi tim nasional Filipina. Inilah harga sebuah kesuksesan,” tulis Noli.
Dengan performa yang terus menanjak dan dukungan luar biasa dari publik Filipina, Eala kini tidak hanya mengejar gelar demi gelar. Ia mulai dipandang sebagai sosok yang berpotensi membawa generasi muda Filipina dan negara-negara Asia lainnya semakin dekat dengan olahraga tenis.

