BerandaNewsEsai & Opini"Jangan Menangis Untukku, Argentina"

“Jangan Menangis Untukku, Argentina”

OLEH: Tommy R Arief

Aku masih mengingat malam itu pada 2016.

Lapangan di New Jersey mendadak terasa hening. Setelah 120 menit tanpa gol, adu penalti menjadi penentu. Argentina kalah. Kamera lalu menyorot satu sosok yang berdiri membisu. Kaus biru-putihnya basah oleh keringat, kepala tertunduk, bahunya bergetar.

Itu Lionel Messi.

Melihat adegan itu, pikiranku langsung melayang pada lirik lagu legendaris karya Andrew Lloyd Webber dan Tim Rice untuk musikal Evita (1976), yang kemudian dipopulerkan Madonna lewat film Evita pada 1996.

“Don’t Cry for Me, Argentina. The truth is I never left you.”

Namun, malam itu maknanya terasa terbalik.

Bukan seorang pemimpin yang sedang menenangkan rakyatnya, melainkan seorang anak dari Rosario yang memikul harapan jutaan bangsanya. Seorang pemain yang selama bertahun-tahun menjadi tempat Argentina menggantungkan mimpi.

Justru Argentina yang menangis untuknya.

Baca Juga :   Melawan Kapitalisme Serius

Setiap empat tahun sekali, seluruh harapan negeri itu disematkan di punggung bernomor 10. Setiap kegagalan terasa seperti luka bersama. Dan setiap air mata Messi seolah menjadi ketakutan terbesar: bagaimana jika ia benar-benar pergi sebelum mewujudkan impian yang sama-sama mereka kejar?

Perjalanan itu dipenuhi tangis.

Pada 2014, di Stadion Maracanã, Brasil, Messi menatap trofi Piala Dunia yang gagal diraihnya. Air matanya jatuh bersama mimpi yang tinggal selangkah lagi.

Dua tahun kemudian, di New Jersey, setelah kembali kalah di final Copa América, ia tak kuasa menahan kecewa. Bahkan sempat mengucapkan kata yang paling ditakuti para pendukung Argentina: “cukup”. Ia mengumumkan pensiun dari tim nasional.

Namun kisah itu belum selesai.

Pada 2021, di Stadion Maracanã, Rio de Janeiro, Messi kembali menangis. Kali ini bukan karena kecewa, melainkan karena akhirnya bisa berkata kepada bangsanya, “Aku pulang membawa gelar.” Copa América akhirnya menjadi miliknya.

Baca Juga :   Di Atlanta, Saat Mick Jagger Bergoyang, Beckham Bersorak, Inggris Menggigit, Argentina Menang

Lalu datang malam yang mengubah segalanya.

18 Desember 2022. Stadion Lusail, Qatar.

Di panggung terbesar sepak bola dunia, Messi kembali menangis. Tetapi kali ini air mata itu mengalir sambil memeluk trofi Piala Dunia yang selama ini dikejarnya. Tangis yang bertahun-tahun dipenuhi penyesalan akhirnya berubah menjadi tangis kebahagiaan.

Andrew Lloyd Webber menulis “Don’t Cry for Me, Argentina” sebagai lagu perpisahan.

Namun Messi memberikan makna baru pada kalimat itu.

“Jangan menangis untukku, Argentina.”

Bukan lagi sebagai ucapan selamat tinggal.

Melainkan sebuah janji.

Janji bahwa ia tidak akan berhenti berjuang sampai air mata kecewa bangsanya berubah menjadi air mata lega.

Dan malam di Lusail itu menjadi penutup yang sempurna.

Baca Juga :   Komunitas Sepeda Planet Gowes 45'83 Dan komunitas Sepeda Godidem Meriahkan Hari Peduli Sampah Nasional

Untuk pertama kalinya, Argentina tidak perlu lagi menangis untuk Lionel Messi.

Semalam, saat layar besar di acara nonton bareng kembali memutar cuplikan air matanya, entah rekaman lama atau sekadar pengingat perjalanan panjang itu, suasana kembali sunyi. Dari Jakarta hingga berbagai penjuru dunia, para penggemar kembali menahan napas, seolah ikut mengulang semua emosi yang pernah mereka rasakan.

Karena pada akhirnya kami memahami satu hal.

Mencintai nomor 10 tak lagi bergantung pada berapa banyak trofi yang berhasil diangkatnya.

Sebab jauh sebelum ia menjadi juara dunia, Lionel Messi telah memenangkan sesuatu yang lebih abadi: hati orang-orang yang tak pernah berhenti percaya kepadanya.

*Tommy R. Arief, Senior Jurnalis

WhatsApp Image 2026 07 16 at 10.52.36

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Rieke Diah Pitaloka: Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih Memiliki Landasan Historis dan Konstitusional yang Kuat

TERMINALNEWS.ID, YOGYAKARTA — Anggota Komisi XIII DPR RI sekaligus Duta Arsip...

Kementerian UMKM Perkuat Kapasitas Wirausaha Muda melalui WIBAWA Grow Day 2026

TERMINALNEWS.ID, SURAKARTA – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus...

Manchester United Siapkan Tawaran Rp1 Triliun untuk Manu Koné, INEOS Lanjutkan Revolusi Lini Tengah

TERMINALNEWS.ID, MANCHESTER - Manchester United dikabarkan siap mengajukan tawaran resmi untuk...

Hotman Paris Minta Maaf Usai Ucapkan Pernyataan Kontroversial kepada Wartawan

TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – Pengacara kondang, Hotman Paris Hutapea menyampaikan permintaan maaf...

- A word from our sponsors -

spot_img