JAKARTA,TERMINALNEWS.ID -| Suasana hangat penuh cerita mengalir di sebuah sudut Jakarta Pusat. Di Hotel Golden Boutique Kemayoran, Senin (27/4), waktu seakan berputar mundur. Bukan sekadar acara halal bihalal, tapi pertemuan jiwa-jiwa yang pernah mewarnai era keemasan musik Indonesia.
Diinisiasi oleh musisi Wahyu WHL, momen ini menjadi ruang temu bagi para pencipta lagu dan penyanyi senior yang pernah berjaya di era kaset dan CD masa ketika Glodok menjadi saksi geliat industri musik tanah air.
Bagi pencipta lagu legendaris di balik “Tenda Biru” yang dipopulerkan Desy Ratnasari, acara ini bukan sekadar temu kangen. Lebih dari itu, ini adalah simbol toleransi, kebersamaan, dan rasa saling menghargai yang telah lama terjalin di antara para seniman.
Silaturahmi ini terasa begitu bermakna. Di usia yang tak lagi muda, mereka berkumpul bukan hanya untuk mengenang, tetapi juga saling menguatkan. Ada cerita tentang perjuangan, tentang panggung-panggung yang pernah dipijak, hingga tentang harapan yang masih menyala meski zaman telah berubah.
Nama-nama besar seperti Obbie Messakh,Angga Widodo,Koko Thole,Ade Putra,Indah Permatasari,Cherry LZ,Hetty Soenjaya,Fenty Noor,Ria Resty Fauzi, Maxie Mamiri, Amin Ivos, hingga Hermes Sihombing turut hadir, membaur dalam suasana penuh keakraban. Tawa, pelukan, dan cerita lama berpadu menjadi satu.
Menurut Obbie, momen seperti ini bukan hanya mempererat persaudaraan, tetapi juga menjadi ruang berbagi tentang realitas yang kini dihadapi para pelaku seni, termasuk persoalan royalti yang masih menjadi perjuangan bersama.
Namun malam itu, bukan hanya cerita yang dibagikan melainkan juga musik yang kembali hidup.

Obbie membawakan “Kisah Kasih di Sekolah” dan “Sakit Gigi”, menghidupkan kembali kenangan yang tak lekang waktu. Ria Resty Fauzi menyentuh hati lewat “Sepatu dari Kulit Rusa”, sementara Ade Putra menghadirkan “Si Jantung Hati” dengan penuh rasa.
Salah satu momen paling memukau datang dari Amin Ivos. Di usia 83 tahun, ia tampil enerjik membawakan lagu Suspicious Minds milik Elvis Presley. Suaranya masih kuat, karismanya tak pudar seolah menegaskan bahwa musik tak mengenal usia.
Malam itu bukan sekadar reuni. Ia adalah perayaan perjalanan, penghormatan pada karya, dan bukti bahwa kenangan indah akan selalu menemukan jalannya untuk kembali hidup.[*]


