WASHINGTON, TERMINALNEWS.ID – Presiden FIFA, Gianni Infantino, kembali menjadi sorotan setelah dituding melanggar aturan ketat organisasi sepak bola dunia tersebut saat menghadiri pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Infantino dan Trump diketahui menjalin hubungan dekat dalam beberapa tahun terakhir, terutama menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Utara. Pada Desember lalu, Infantino secara kontroversial menganugerahkan penghargaan perdana FIFA Peace Prize kepada Trump dalam acara undian Piala Dunia.
Dalam pernyataan resminya, FIFA menyebut Trump “diakui atas upayanya yang tak kenal lelah dalam mempromosikan perdamaian”. Infantino bahkan memuji Trump sebagai sosok pemimpin yang peduli terhadap rakyat dan mendukung terciptanya dunia yang aman serta bersatu.
“Ini yang kami harapkan dari seorang pemimpin. Pemimpin yang peduli terhadap rakyat. Kami ingin hidup di dunia yang aman, di lingkungan yang aman. Kami ingin bersatu – itulah yang kami lakukan hari ini, dan itulah yang akan kami lakukan di Piala Dunia,” ujar Infantino.
Ia juga menambahkan bahwa Trump layak menerima penghargaan tersebut dan menyatakan dukungan penuh dari komunitas sepak bola dunia terhadap Presiden AS tersebut.

Dalam wawancara dengan Sky News awal bulan ini, Infantino kembali menegaskan bahwa Trump pantas mendapatkan penghargaan itu. Ia menilai Trump berperan penting dalam mengupayakan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.
“Secara objektif, dia memang pantas mendapatkannya,” ujar Infantino yang kini berusia 55 tahun. “Dia berperan penting dalam menyelesaikan konflik dan menyelamatkan ribuan nyawa.”
Hadiri Pertemuan Dewan Perdamaian
Loyalitas publik Infantino terhadap Trump tampaknya mendapat apresiasi dari Gedung Putih. Trump mengundang Presiden FIFA tersebut untuk menghadiri pertemuan perdana Dewan Perdamaian (Board of Peace) di Washington pada Kamis waktu setempat.
Perwakilan dari lebih dari 45 negara dijadwalkan hadir, meski beberapa sekutu utama AS seperti Inggris, Jerman, dan Prancis dilaporkan menolak undangan tersebut.
Dalam kesempatan itu, Trump sempat melontarkan candaan.
“Hampir semua orang di sini adalah kepala negara, selain Gianni. Tapi dia kepala sepak bola, jadi itu tidak buruk, bukan Gianni? Saya paling suka pekerjaanmu,” kata Trump.
Dituding Langgar Kode Etik FIFA
Namun, kontroversi muncul ketika Infantino terlihat mengenakan topi merah bergaya MAGA dengan tulisan besar ‘U.S.A’ di bagian depan. Di sisi topi tersebut tertera angka ‘45-47’ yang merujuk pada dua periode kepresidenan Trump.

Tindakan itu memicu kritik karena dianggap melanggar Kode Etik FIFA, khususnya terkait netralitas politik.
Jurnalis Sunday Times, Duncan Castles, mengutip Pasal 14.3 Kode Etik FIFA yang menyatakan bahwa setiap pihak yang terikat kode tersebut harus menjaga reputasi FIFA dan bertindak secara bermartabat, etis, serta berintegritas setiap saat.
Selain itu, Pasal 15.1 juga menegaskan bahwa dalam berhubungan dengan institusi pemerintah maupun organisasi nasional dan internasional, pihak terkait wajib tetap netral secara politik sesuai prinsip dan tujuan FIFA.
Mantan bek Tottenham dan timnas Swiss, Ramon Vega, turut melontarkan kritik tajam. Vega yang sempat mempertimbangkan mencalonkan diri sebagai presiden FIFA pada 2015 menyebut tindakan Infantino sebagai lelucon yang merusak integritas sepak bola.
“Benar-benar lelucon dan presiden FIFA ini sepenuhnya merusak integritas sepak bola dan tujuan FIFA sebagai organisasi. Jangan campur sepak bola dengan politik demi keuntungan pribadi,” tulis Vega.
Ia juga menyoroti adanya standar ganda dalam penerapan aturan.
“Tidak ada aturan untuk presiden FIFA, tapi banyak aturan untuk 211 asosiasi anggota! Dia merasa seperti presiden dunia, tapi tak ada yang benar-benar menganggapnya serius. Bencana bagi kepemimpinan sepak bola,” tegasnya.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari FIFA terkait tudingan pelanggaran kode etik tersebut.


