BerandaEntertainmentGarputala Luncurkan Lagu “Dari...

Garputala Luncurkan Lagu “Dari Kami untuk Presiden”, Suarakan Keadilan Royalti

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID— Garda Publik Pencipta Lagu (Garputala) resmi meluncurkan lagu berjudul “Dari Kami untuk Presiden”, sebuah karya kolektif yang memotret kegelisahan para pencipta lagu atas tata kelola royalti musik nasional yang dinilai kian menjauh dari pemilik sah karya.

Inisiator Garputala, Ali Akbar, yang dikenal luas lewat kolaborasinya bersama Gong 2000 menegaskan bahwa akar persoalan royalti bukan pada ketiadaan pemilik hak cipta, melainkan pada penyimpangan sistem yang menggeser posisi pencipta dari subjek utama menjadi sekadar objek kebijakan.

“Adalah pencipta yang seharusnya menjadi pusat. Ketika tata kelola didominasi lembaga tanpa partisipasi aktif pencipta, di situlah ketidakpastian hukum, distribusi tersendat, hingga potensi penyalahgunaan muncul,” ujar Ali,saat melaunching lagu “Dari Kami Untuk Presiden” Karya Rento Saky/Ali Akbar/Eko Saky di Depok,Minggu(1/3)

Royalti Tidak Bertuan” dan Problem Sistem

Ali menilai istilah “royalti tidak bertuan” sebagai narasi yang keliru. Setiap karya, tegasnya, memiliki pencipta yang sah. Jika ada royalti belum tersalurkan, itu mencerminkan lemahnya pendataan dan distribusi, bukan ketiadaan pemilik.

Ia juga menyoroti penerapan sistem blanket license untuk pemutaran lagu di hotel, restoran, dan kafe. Skema lisensi terpadu tersebut pada prinsipnya memudahkan pengguna dengan satu kali pembayaran untuk banyak lagu. Namun, tanpa akuntabilitas distribusi yang transparan dan berbasis data terverifikasi, sistem itu berpotensi merugikan pencipta.

Baca Juga :   “Vintage Sounds”, Saat Lagu-Lagu Lawas Bangkit Kembali di Panggung Modern

“Masalahnya bukan pada konsepnya, tetapi pada pelaksanaan. Jika tidak tercatat optimal, karya yang diputar bisa tak terdistribusi secara adil. Dan di situ peluang penyimpangan terbuka,” katanya.

Kritik atas Kebijakan Pencabutan Kewenangan

Lebih jauh, Ali mengkritik pencabutan kewenangan Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) yang dinilainya tidak memiliki pijakan hukum jelas dan menyimpang dari Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Dampaknya, kata dia, terasa langsung: penarikan royalti terhenti, distribusi tersendat, dan pencipta kembali menjadi pihak yang dirugikan.

“Ini bukan sekadar soal administrasi, tapi kepastian hukum. Kebijakan publik harus lahir dari keputusan institusional yang transparan, bukan tafsir personal,” tegasnya.

Lagu sebagai Surat Terbuka

Lagu “Dari Kami untuk Presiden” menjadi semacam surat terbuka kepada Presiden, memohon proteksi dan fasilitasi agar pencipta lagu dapat terus berkarya tanpa dihantui ketidakpastian hak ekonomi.

Baca Juga :   Acha Septriasa Terjebak Syirik, Dosa Besar yang Tak Terampuni di Qodrat 2, Apa yang Akan Ia Lakukan Selanjutnya

Dengan lirik yang lugas dan repetitif, Garputala menegaskan keluhan tentang oportunisme, dugaan penyalahgunaan kewenangan, hingga ironi kehidupan pencipta yang jauh dari sejahtera meski karyanya terus menggema di ruang publik dan platform digital.

DARI KAMI UNTUK PRESIDEN
_Cipt. Rento Saky_
_Syair : Rento Saky/Ali Akbar/Eko Saky_

Pak Presiden kami dari Garputala
Garda Publik Pencipta Lagu
Minta proteksi minta fasilitasi
Agar bisa terus berkarya

Pekerja seni dan pencipta lagu
Dari dulu slalu dikuyu-kuyu
Diperdaya dipaksa kalah
Kami ingin mengubah nasib

Reff 1 :
_Banyak oportunis manfaatkan kami_
_Mengangkangi karya dan uang kami_
_Otak-otak jahat tak hasilkan karya_
_Tapi berkuasa dan makan royalti_

Pak Presiden tolong dong fasilitasi
Agar eksistensi kami tak mati
Dengan berkarya kami sudah ciptakan
Ribuan lapangan kerja

Jasa kami para pencipta lagu
Pada bangsa tak perlu ditanyakan
Masa perjuangan sampai masa merdeka
Pencipta lagu terus berkarya

Reff 2 :
_Hidup kami jauh dari sejahtera_
_Padahal karya kami terus menggema_
_Kami tak menyerah dan terus melangkah_
_Ditengah era digitalisasi_

Baca Juga :   Bersatu Dalam Keragaman, Rutan Cipinang Gelar Upacara Peringati HUT RI Ke-79 dengan Pakaian Adat Nusantara

Reff 1 :
_Banyak oportunis manfaatkan kami_
_Mengangkangi karya dan uang kami_
_Otak-otak jahat tak hasilkan karya_
_Tapi berkuasa dan makan royalti_

Reff 2 :
_Hidup kami jauh dari sejahtera_
_Padahal karya kami terus menggema_
_Kami tak menyerah dan terus melangkah_
_Ditengah era digitalisasi_
_Kami tak menyerah dan terus melangkah_
_Terus melangkah_

Di tengah era digitalisasi, para pencipta, menurut Garputala, tetap menjadi tulang punggung ekosistem industri musik dari penyanyi, musisi pengiring, hingga pekerja teknis produksi. Mereka menilai kontribusi historis pencipta lagu terhadap bangsa, sejak masa perjuangan hingga kemerdekaan, tak pernah terputus.

Kini, melalui lagu tersebut, Garputala berharap ada pembenahan sistemik: tata kelola berbasis data, distribusi yang adil dan terverifikasi, serta pelibatan aktif pencipta dalam setiap kebijakan yang menyangkut hak ekonomi atas karya mereka.

Bagi Garputala, perjuangan ini bukan semata soal angka royalti, melainkan soal martabat profesi. “Kami tak menyerah dan terus melangkah,” demikian penggalan lirik yang berulang, menutup lagu dengan nada perlawanan dan harapan.

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Royalti Musik dan Keadilan Pencipta: Harapan Baru di Era Tata Kelola LMKN

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID — Tata kelola royalti dalam industri musik tidak semata berbicara...

GSW Pantura Jadi Proyek Strategis Nasional, Pemerintah Siapkan Otorita Khusus

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID— Proyek Giant Sea Wall (GSW) di kawasan Pantai Utara (Pantura)...

Polemik LMKN Kembali Mengemuka, LMK Klaim Sistem Royalti Rugikan Pencipta Lagu

JAKARTA,TERMINALNEWS ID— Polemik yang menyeret nama Lembaga Manajemen Kolektif Nasional kembali...

Arca “Mbah Bhelet” Dipindahkan, Fadli Zon Tekankan Penguatan Nilai Budaya Borobudur

MAGELANG,TERMINALNEWS.ID — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menghadiri Ritual Ageng Boyongan Mbah...

- A word from our sponsors -

spot_img